Tingkatkan Populasi Ternak, Pemprov Babel ‘Berguru’ ke Jawa Timur
Oleh: Gusva Yetti SPt MM Pengawas Mutu Pakan Muda Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ARAH pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai beralih. Sektor tambang yang dulu jadi andalan, kini perlahan-lahan mulai digeser ke sektor lain dan sektor pertanian termasuk pariwisata menjadi pilihan utama sebagai pengganti. Cadangan timah yang terus menipis sudah tidak dapat lagi dijadikan penghasil utama pendapatan daerah. Belum lagi dampak kerusakan lahan yang ditinggalkan akibat aktifitas penambangan juga menjadi salah satu permasalahan yang harus diatasi. Berbicara pertanian tentu tak bisa lepas dari subsektor peternakan. Sebagai bagian dari pertanian, peternakan memiliki andil sangat besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, pembangunan peternakan tidak saja menyediakan protein hewani tetapi juga dapat menjadi tambahan penghasilan bagi peternak, penyedia lapangan pekerjaan, tabungan keluarga, penyedia bahan pupuk organik bahkan status sosial di suatu daerah. Potensi pengembangan peternakan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung cukup besar. Sumber pakan dan lahan yang tersedia masih cukup luas. Kendati demikian sekitar delapan puluh persen bibit dan bakalan masih didatangkan dari luar daerah dan hal itu menjadi peluang pasar yang cukup menjanjikan dalam rangka pengembangan peternakan ke depan. Maka tak heran jika kemudian Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menetapkan pengembangan peternakan menjadi salah satu program unggulan bersama subsektor perkebunan dan tanaman pangan melalui Slogan 3S, yaitu Sahang (lada), Sapi dan Sawah. Tak mau cuma sebatas slogan, Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dr H Erzaldi Rosman SE MM kemudian mengajak Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli SP MP beserta pejabat dan staf yang menangani kegiatan peternakan berkunjung ke Jawa Timur pada tanggal 11 dan12 Pebruari 2020. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk menjajaki kerjasama pengembangan peternakan dengan Provinsi Jawa Timur termasuk Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosasari. Seperti diketahui, Provinsi Jawa Timur merupakan daerah sentra peternakan di Indonesia dan salah satu pemasok ternak ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Melalui kunjungan ini Gubernur berharap adanya penambahan kuota ternak sapi untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung baik berupa bibit maupun bakalan. Penambahan bibit sapi sangat dibutuhkan terutama dalam rangka mengimplementasikan Peraturan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pengembangan Integrasi Sawit – Sapi pada perusahaan yang telah menghasilkan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sementara itu BBIB Singosari merupakan salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Pertanian yang sudah menjadi Badan Layanan Umum dengan 12 purna jual diantaranya untuk penjualan sperma beku (straw) sapi, kambing, domba dan ikan. Sedangkan layanan lainnya berupa penyelenggaraan bimbingan teknis dan managemen baik untuk petugas maupun peternak. Selain itu Gubernur juga berharap adanya dukungan BBIB Singosari untuk pengembangan peternakan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam bentuk KSO (kerjasama operasional) khususnya dalam peningkatan kompetensi SDM petugas dan peternak maupun penyediaan benih/bibit ternak yang dapat dikembangkan di masyarakat maupun Balai Benih Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Peningkatan kompetensi petugas teknis memang sangat dibutuhkan untuk pelaksanaan dan pelayanan masyarakat. Adapun bimbingan teknis yang telah diselenggarakan adalah IB/PKB/ATR/, ganguan reproduksi, handling semen, selektor, managemen pakan , laboran, managemen BLU/SPI/ISO, managemen peternakan, potong kuku, managemen ternak unggas dan budidaya ternak kelinci. Selain sebagai layanan umum, BBIB Singosari juga melakukan hibah straw untuk pemerintah daerah se Indonesia diantaranya melalui Program SIWAB (Sapi Induk Wajib Bunting). Straw yang dibagikan berasal dari pejantan yang sudah diseleksi. Adapun jenis straw sapi yang disediakan adalah Limosin, Simental, Brahman, Angus, Madura, Bali, PO dan FH. Sementara straw untuk kambing jenis Boer,Shanen, Kaligesing Untuk mendukung percepatan produksi dan produktivitas ternak di Indonesia, Kementerian Pertanian sedang mengembangkan Sapi Belgian Blue di beberapa UPT termasuk BBIB Singosari. BBIB Singosari sudah mengembangkan Belgian Blue dengan nama GATOT KACA dan telah menghasilkan straw (sperma beku) sebanyak 1.614 dosis yang siap dibagikan pada beberapa UPTD provinsi yang memiliki kemampuan sumberdaya pakan dan tenaga ahli yang cukup serta dalam pengawasan tenaga ahli. Untuk diketahui, Belgian Blue merupakan salah satu sapi yang memiliki bobot besar, rata rata 1.100 hingga 1.250 kilogram dengan pertambahan berat badan antara 1,2 hingga 1,6 kilogram per hari. Belgian Blue menjadi pilihan pemerintah untuk pengembangan mengingat sapi ini punya karakteristik unggul yaitu memiliki otot ganda (double musle), temperamen jinak dan mudah dalam penanganan. Sapi ini melahirkan anak pertama pada umur 23 bulan dan memiliki efisiensi pakan yang tinggi. Persentase karkas sapi Belgian Blue sangat baik, yaitu antara 75 persen hingga 80 persen, kualitas daging lembut dan rendah kolesterol serta tinggi kandungan protein, vitamin B3 dan B12 dan zat besi.*)