Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar Pemerintahan, Pertanian dan Ketahanan Pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pemanfaatan  Tanaman Asystacia Sebagai Pakan Ternak
12 Apr 2021

Pemanfaatan Tanaman Asystacia Sebagai Pakan Ternak

Oleh: Gusva Yetti SPt MM (Pengawas Mutu Pakan Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)   SEBAGAIMANA diketahui bahwa pakan merupakan komponen biaya yang paling besar dari struktur biaya usaha peternakan. Sekitar enam puluh hingga tujuh puluh persen usaha peternakan merupakan komponen biaya produksi. Oleh karena itu peternak dituntut untuk dapat mencari sumber pakan yang murah, palatiabilitas tinggi, kandungan nutrisi yang tinggi tapi racun/anti nutrsisi rendah, mudah didapat serta tersedia sepanjang masa. Ruminansia (sapi,kambing, domba, kerbau) adalah ternak yang mengkonsumsi hijauan sebagai pakan utamanya. Namun kadang kala ketersediaanya sering terbatas baik keterbatasan areal tanam, musim kemarau sehingga peternak banyak mengandalkan rumput lapang yang tersedia di banyak areal terbuka, gulma ataupun disela perkebunan dan lahan pertanian lainnya. Salah satu rumput yang banyak dianggap gulma ataupun tumbuh di areal pertanian dan perkebunan adalah rumput Asystasia gangetica atau yang sering dikenal dengan rumput kelinci ataupun ara sunsang   Ara sunsang atau Asystasia adalah spesies tanaman dalam keluarga Acanthaceae merupakan tumbuhan berpotensi menjadi sumber hijauan pakan yang mudah ditemui di perkarangan rumah, tepi jalan, kebun dan lapangan terbuka. Tumbuhan ini berasal dari Afrika. Banyak tumbuh di bawah naungan seperti tanaman pisang ataupun lahan perkebunan sehingga banyak dianggap gulma.  Di area perkebunan tanaman ini dapat dijadikan sebagai penutup tanah. Tumbuhan penutup tanah di areal perkebunan ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu area penyedia hijauan pakan dengan memanfaatkan area di sela-sela tanaman utama sehingga efisiensi penggunaan lahan tersebut dapat meningkat. Asystasia memiliki ciri cirinya antara lain  tumbuh menjalar sampai ketinggian 50 cm.  Daun berbentuk oval dan kadang-kadang hampir berbentuk segitiga dengan panjang 2,5–16,5 cm dan lebar 0,5–5,5 cm.  Batang dan daunnya berbulu halus, bunga berwarna putih atau ungu, dan bentuknya menyerupai lonceng dengan panjang 2–2,5 cm.  Buahnya seperti kapsul, berisi empat buah biji dan panjang sekitar 3 cm. Dalam suatu peneltian dikatakan bahwa tanaman ini juga tahan di bawah naungan seperti lahan kelapa sawit, selanjutnya juga dikatakan bahwa Asystasia gangetica dapat tumbuh dengan baik di bawah naungan kelapa sawit umur 6 tahun dibandingkan dengan umur 8 tahun. Produksi terbaik terdapat pada jarak tanam 10x10 cm pada umur 6 tahun sedangkan untuk kualitas nutrien yang terbaik terdapat pada jarak tanam 40x 40 cm sehingga tanaman ini dapat juga dijadikan penutup tanah Di Kepulauan Bangka Belitung, tanaman ini selain diberikan untuk sapi, kambing dan domba juga banyak diberikan untuk kelinci dan ayam buras termasuk itik. Mengingat palatabilitas dan kandungan nutrisi tinggi, tanaman ini dapat dijadikan potensi pakan yang baik untuk sapi, kerbau, kambing dan domba. Untuk unggas perlu dibatasi mengingat kandungan serat yang cukup tinggi. Palatabilitasnya yang tinggi serta kandungan nutrisinya cukup baik sehingga tanaman ini  potensial sebagai hijauan pakan ternak (Asystasia  gangetica) . Berdasarkan hasil pengujian sampel yang diambil oleh Pengawas Mutu Pakan Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  dan diuji di Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan Ternak Bekasi bahwa kandungan nilai gizi pada Asystasia gangetica ini terdiri dari bahan kering  23,30% , Protein Kasar  20,35%, Lemak Kasar 3,39%, Serat Kasar 29,49 %, Kalsium 0,90%, Phospohor 0,38 % dan TDN 53,07 %. Sementara penelitian lainnya melaporkan   kandungan  nutrisi  yaitu bahan  kering  10.7%  berat  segar,  protein  kasar cukup tinggi, yaitu berkisar   19.3%  BK dan  serat  kasar  25.5% BK   Selanjutnya kandungan mineralnya cukup tinggi juga , yaitu Ca 17,1 g/kg, K 4,0 g/kg, P 13,4 g/kg, Mg 10,7 g/kg, Zn 1,8 mg/kg, Cu 37,2mg/kg, dan Mn 4,3 mg/kg ( Ageaet al., 2014) dalam Irza Nofriyanti (2016). Terkait dengan hal tersebut maka tanaman ini juga dapat dijadikan salah satu tanaman  sumber protein dan sumber mineral. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa dengan pemberian Ara Sungsang (Asystasia gangetica) dapat meningkatkan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, nilai hematokrit, dan jumlah leukosit kambing PE dan pemberian Ara Sungsang sebanyak 1 kg memberikan hasil yang paling bagus.*)   Daftar Bacaan : Herilimiansyah¹, NR Kumalasari¹*, L Abdullah¹ (2020)  Evaluasi Sistem Budidaya Tanaman Asystasia gangetica T. Anderson yang Ditanam dengan Jarak Berbeda di Bawah Naungan Kelapa Sawit. Jurnal Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Vol. 18 No. 1: 7-10, April 2020.  Irza Nofri Yanti (2016), Studi Kandungan Zat Mineral Tanaman Ara Sungsang (Asystasia Gangetica L.) Sebagai Pakan Ternak Kambing Di Wilayah Payakumbuh . Skripsi Bagian Ilmu Nutrisi Dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakanuniversitas Andalas Payakumbuh Gusmawati, (2017) Pemberian  Ara Sungsang (Asystasia Gangetica)  Terhadap  Darah Kambing Peranakan Etawa . Skripsi Program Studi Peternakan Fakultas Peternakanuniversitas Andalas Padang

Gusva Yetti SPt MM Baca Selengkapnya
Peran Pakan dalam Mendukung Program KUR Penggemukan Sapi
18 Feb 2021

Peran Pakan dalam Mendukung Program KUR Penggemukan Sapi

  Oleh: Gusva Yetti, SPt.MM (Pengawas Mutu Pakan Madya pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)   PERTANIAN merupakan salah satu sektor yang mendapatkan layanan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan subsektor peternakan termasuk bagian yang mendapatkan permodalan dengan tingkat suku bunga yang rendah tersebut termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Serapan KUR pada sektor pertanian di Negeri Serumpun Sebalai sangat tinggi. Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Bangka Belitung menyebutkan bahwa sekitar delapan puluh persen dana KUR yang digelontorkan di provinsi ini diserap oleh sektor pertanian. KUR merupakan salah satu program pemerintah dalam rangka memperkuat permodaalan usaha di masyarakat dengan suku bunga yang rendah termasuk Program KUR penggemukan sapi di Kepulauan Bangka Belitung. Peruntukkannya dalam rangka memperkuat modal usaha bagi peternak penggemukan sapi dengan  harapan dapat membantu menyuplai kebutuhan daging di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, meningkakan pendapatan, membuka lapangan pekerjaan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. KUR subsektor peternakan tahap pertama dengan program penggemukan sapi telah dimulai pada Tahun 2020. Peruntukkannya diberikan kepada 38 peternak yang tergabung dalam lima kelompok peternak dengan sapi sebanyak 76 ekor dengan jenis Limosin, Simental, Angus. Kelompok peternakan tersebut tersebar di Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka Tengah  Untuk KUR tahap kedua akan diperuntukkan bagi 99 peternak yang tersebar di Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Barat dan Bangka Selatan. KUR Tahap kedua ini lebih diarahkan kepada penyediaan kebutuhan hewan Qurban dengan jenis ternak sapi Madura atau Bali sehingga dengan plafon dana yang ada diperkirakan peternak akan mendapat 3 hingga 4 ekor  per orang. Agribisnis penggemukan sapi di Provinsi Bangka Belitung ini memiliki prospek yang cukup baik. Pasar yang cukup terbuka karena hamper 85 persen kebutuhan daging masih didatangkan dari luar. Lahan yang cukup luas dapat dijadikan areal tumbuh sumber pakan serta limbahpeternakan yang dapat dijadikan bahan pupuk organic untuk memenuhi pupuk baik untuk pertanian sendiri maupun reklamasi lahan marginal seperti reklamasi lahan eks tambang timah yang cukup banyak di Bangka Belitung. Dukungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam program KUR tahap pertama khususnya pakan pada kelompok Mandiri Pangan  ini diantaranya adalah bantuan  pakan konsentrat, pendampingan dan bimbingan teknis dalam pemilihan pakan yang berkualitas, penguatan penyediaan hijauan pakan berkualitas beruapa bantuan bibit, pupuk untuk hijauan pakan ternak terdiri dari bibit rumput gajah sebanyak 10.000 stek, indigofera sebanyak 2.000 polibag, pupuk kompos sebanyak 2.4 ton, pupuk an organic sebanyak 0.8  Ton dan dolomit sebanyak 0.8 ton. Penguatan kebun hijauan pakan tersebut dalam kegiatan Gerbang Patas (Gerakan Penanam HIjauan Pakan Berkualitas). Penguatan fasilitasi alat pengolah pakan (pencacah kelapa sawit) serta pelayanan kesehatan hewan seperti pemberian vitamin, obat cacing dan pengobatan lainnya telah berikan oleh  Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah. Kelompok Tani Mandiri Pangan sudah memformulasi pakan sendiri dengan memanfaatkan beberapa bahan pakan lokal seperti rumput gajah, rumput alam, indigofer, dedak, solid,  bungkil sawit, dedak, onggok, kulit ubi,  garam yang diberikan dalam bentuk segar dan sebagian dalam bentuk yang telah difermentasi/silase. Untuk masa penggemukan 6 bulan rata- rata pertambahan berat badan 0.8 kilo gram per ekor per hari. Pertambahan berat badan ini belum optimal karena penggemukan sapi dapat mencapai berat rata rata per hari lebih dari satu kilo gram dengan pemberian pakan yang cukup baik secara kualitas dan kuantitas.  Salah satu permasalahan pakan di kelompok Mandiri Pakan ini adalah sempat terjadi perubahan formulasi pakan baik jumlah maupun bahan baku karena kesulitan dalam mendapatkan solid dan bungkil inti sawit. Hal  ini langsung ditanggapi olah Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dr H Erzaldi Rosman SE MM pada acara panen sapi penggemukan di Kabupaten Bangka Tengah pada tanggal 16 Pebruari 2021 yang lalu.  Gubernur siap memfasilitasi Kelompok ke perusahan kelapa sawit untuk mendapatkan bahan baku tersebut dengan membuat kebutuhan per bulan bersama beberapa kelompok lainnya untuk kebutuhan skala waktu tertentu yang dikoordinir oleh Petugas Penyuluh Lapang di wilayah tersebut. Dengan pembelian dalam jumlah banyak dapat menekan harga dan kontiunitas. Pakan yang diberikan di Kelompok Mandiri Pangan  harus dievaluasi kembali baik dalam komposisi nutrisi, jumlah pemberian, waktu pemberian serta harga dan kontinuitas bahan baku.  Pakan sangat berpengaruh dalam usaha peternakan karena 60 hingga-70 persen merupakan komponen biaya dalam usaha tersebut. Sementara peranan pakan sangat penting dalam menentukan produksi dan produktivitas ternak. Pemberian pakan yang cukup baik secara kualitas maupun kuantitas berdampak pada pertumbuhan dan pertambahan berat badan sapi tersebut sehingga pemilihan baku pakan harus memperhatikan semua aspek di atas.*)

Gusva Yetti SPt MM Baca Selengkapnya
Peluang dan Tantangan Pengembangan Porang di Kepulauan Bangka Belitung
26 Des 2020

Peluang dan Tantangan Pengembangan Porang di Kepulauan Bangka Belitung

Oleh: Intan Fortuna Fachrawati, SP (Analis Pasar Hasil Pertanian Muda pada Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) SEMANGAT Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang tengah fokus mengembangkan tanaman porang didukung oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui beberapa kegiatan salah satunya melalui  kunjungan ke pabrik pengolahan porang dan pembibitan di Madiun Jawa Timur beberapa waktu lalu. Porang layak dikembangkan karena memiliki pasar ekspor yang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Bangka Belitung. Tanaman porang yang memiliki nama latin Amorphophallus oncophyllus Prain masuk dalam keluarga talas-talasan yang memiliki umbi tunggal yang memiliki kandungan glukomanan berkisar antara 15 – 65 %. Glukomannan banyak digunakan sebagai bahan makanan tradisional di Asia seperti mie, tofu, jelly. Sebagai bahan makanan Porang mempunyai cita rasa yang netral, sehingga porang mudah dicampur dan dicocokan dengan beragam bahan baku kue tradisional maupun modern. Selain itu Porang juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan, seperti dalam pembuatan es krim yang dengan penambahan tepung porang sebagai alternatif bahan penstabil.  Porang juga digunakan untuk industry antara lain untuk mengkilapkan kain, perekat kertas, cat kain katun, woll dan bahan imitasi yang memiliki sifat lebih baik dari amilum dengan harga lebih murah, tepungnya dapat dipergunakan sebagai penganti agar-agar, sebagai bahan pembuat negative film, isolator dan seluloid karena yang sifatnya yang mirip selulosa. Sedangkan larutannya bila dicampur dengan gliserin atau natrium hidroksida bisa dibuat bahan kedap air, juga dapat dipergunakan untuk menjernihkan air dan memurnikan bagian – bagian keloid yang terapung dalam industri bir, gula, minyak dan serat.  Banyaknya manfaat porang ini membuat porang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Kementerian Pertanian mencatat ekspor porang terus meningkat. Selama tahun 2018 ekspor porang sebanyak 11 ribu ton dengan nilai Rp220 miliar, selama tahun 2019 sebanyak 11.720 ton senilai Rp 644 miliar. Dan pada periode Januari hingga Juli 2020 sebesar 14.568 ton dengan nilai Rp 801,24 miliar. Negara tujuan ekspor porang antara lain Jepang, Taiwan, Korea dan China serta beberapa negara di Eropa. Porang diekspor dalam bentuk chip atau produk setengah jadi. Di negara tujuan, produk digunakan sebagai bahan dasar pangan hingga industri./ Sentra produksi porang di Indonesia antara lain adalah Jawa Timur, NTT, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan dan Sumatra. Sentra pengolahan tepung porang saat ini, seperti di daerah Pasuruan, Madiun, Wonogiri, Bandung, Maros.  Porang dapat tumbuh pada ketinggian 0 - 700 m dpl, namun tumbuh baik pada ketinggian 100 - 600 m dpl. Pertumbuhan porang membutuhkan intensitas cahaya maksimum 40%, suhu sekitar 25°C - 35°C dan curah hujan antara 1.000 – 1.500 mm per tahun. Porang dapat tumbuh pada semua jenis tanah dengan pH 6 - 7 (netral), dan tumbuh baik pada tanah yang gembur serta tidak tergenang air. Tumbuhan porang sifatnya toleran naungan (membutuhkan naungan), sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai tanaman sela di antara jenis kayu-kayuan, yang dikelola dengan sistem agroforestry. Intensitas naungan yang dibutuhkan porang untuk mendukung pertumbuhannya adalah minimal 40%. Untuk mencapai produksi umbi porang yang tinggi diperlukan intensitas naungan antara 50 - 60% sehingga di Bangka Belitung porang dapat dikembangkan sebagai tanaman sela di antara tanaman perkebunan atau tanaman kehutanan.  Perkembangbiakan tanaman porang dapat bersifat generatif dan vegetatif. Secara vegetatif teknik yang dapat digunakan untuk mengembangkan bibit Porang yaitu menggunakan bintil/bulbil atau katak dan umbi. Dalam 1 kg bintil/bulbil atau katak berisi sekitar 100 bintil/bulbil atau katak. Saat panen, umbi atau katak dikumpulkan dan disimpan sampai masuk ke musim hujan. Bintil/bulbil atau katak dapat ditanam langsung di lahan yang disiapkan. Ada dua jenis umbi yang dapat digunakan untuk perkembangbiakan porang yaitu umbi kecil dan umbi besar. Umbi kecil diperoleh dengan mengurangi tanaman yang terlalu rapat dan perlu dilakukan penjarangan. Tanaman hasil penjarangan dikumpulkan yang kemudian digunakan sebagai bibit. Sementara penggunaan umbi besar dapat dilakukan dengan cara umbi besar yang telah diperoleh dibagi menjadi beberapa bagian selanjutnya ditanam pada lahan yang telah disiapkan. Secara generatif perkembangbiakkan porang dengan biji atau buah.  Dalam waktu empat tahun tanaman porang membentuk bunga yang kemudian menjadi buah atau biji. Dalam satu tongkol buah porang dapat menghasilkan biji hingga 250 biji yang nantinya dapat digunakan sebagai bibit porang dengan terlebih dahulu dilakukan penyemaian. Kebutuhan bibit disesuaikan dengan jenis bibit yang digunakan dan jarak tanam.  Porang sangat baik ditanam pada musim penghujan. Tiap lubang tanam diisi satu bibit porang dengan jarak tergantung dengan kebutuhan (disesuaikan dengan jenis benih yang digunakan). Tanaman porang merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan khusus. Namun agar hasil yang didapatkan maksimal dapat dilakukan perawatan yang intensif diantaranya penyiangan untuk membersihkan gulma yang berupa rumput liar yang dapat menjadi saingan porang dalam mendapatkan unsur hara, air dan sinar matahari. Pemupukan diberikan berupa pupuk dasar dan pupuk susulan, Di Kepulauan Bangka Belitung yang tanahnya bersifat asam diperlukan pemberian kapur pertanian atau dolomit sebelum porang ditanam. Selain itu perlu dilakukan perawatan tanaman pelindung karena porang membutuhkan naungan dalam pertumbuhannya.  Tanaman porang hanya mengalami pertumbuhan selama 5-6 bulan setiap tahunnya yaitu pada musim penghujan. Di luar masa itu tanaman porang mengalami masa istirahat/dorman dan daunnya akan layu, seolah-olah mati. Tanaman akan Kembali tumbuh pada musim penghujan dan umbi yang tumbuh di dalam tanah akan membesar, Pemanenan porang dilakukan tergantung jenis bibit yang digunakan. Jika menggunakan umbi besar panen dapat dilakukan 1- 2 tahun setelah tanam. Umbi kecil atau katak/bulbil dapat dipanen 2-3 tahun setelah tanam dan buah/biji dipanen 3-4 tahun setelah tanam. Umbi porang dipanen pada bulan Juli – Agustus ketika tanaman porang memasuki masa dorman. Ditandai dengan sebagian besar atau seluruh tanaman sudah mati dan tersisa batang kering. Umbi yang dipanen adalah umbi yang sudah besar yang beratnya mencapai 2 kg/umbi, sedangkan umbi yang masih kecil ditinggalkan untuk dipanen pada daur berikutnya. Dengan populasi 40.000 produksi umbi porang bisa mencapai 80 ton per hektar.  Selain umbi besar segar yang dapat dipanen untuk diambil glukomanannya, umbi kecil yang dihasilkan pada tahun pertama dan kedua pertumbuhan, umbi katak atau bulbil dan biji/buah dari tanaman porang memiliki nilai ekonomis. Untuk meningkatkan nilai ekonomis dan memudahkan penyimpangan dan pemasaran, umbi segar diproses dan dikeringkan menjadi keripik (chips). Diperlukan proses dan teknologi lebih lanjut untuk mengolah umbi dan keripik porang menjadi tepung glukomanan yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Setelah panen petani porang perlu membersihkan umbi porang dari tanah dan kotoran untuk diiris dengan ketebalan sekitar 5 cm dan kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering selama 5 hari. Porang harus benar-benar kering untuk menghindari timbulnya jamur yang dapat mengurangi kualitas dan harga jual porang. Irisan/chip porang tadi masih bisa diolah menjadi tepung porang yang tentu saja lebih akan meningkatkan nilai jualnya. Chip porang yang telah kering dimasukkan dalam disc mill (mesin penepung). Selanjutnya, tepung porang dihaluskan menggunakan ball mill (mesin penepung). Proses selanjutnya disebut fraksinasi, yaitu saat kalsium oksalat dan zat pengotor yang lain akan dibuang dengan cara dihembuskan. Tidak cukup sampai disana, karena kalsium oksalat dapat menyebabkan gatal pada kulit, mengendap di ginjal, dan dapat merusak hati, maka dilakukan lagi proses pencucian menggunakan etanol. Hasil akhir yang didapat dari proses ini adalah tepung porang murni dengan kandungan glukomanan yang dominan.  Di Kepulauan Bangka Belitung budidaya tanaman porang masih baru dikenal dalam beberapa tahun terakhir sehingga pengetahuan petani tentang budidaya dan teknologi pasca panen porang masih terbatas. Terbatasnya jumlah bibit yang tersedia, pembeli dan pabrik pengolahan porang merupakan kendala tersendiri dalam pengembangan porang. Apalagi porang tidak bisa dikonsumsi secara langsung karena selain mengandung glucomannan, tanaman mengandung kalsium oksalat yang dapat menyebabkan lidah dan tenggorokan gatal dan panas bila dikonsumsi. Harga bibit porang yang cukup mahal juga menyebabkan kendala bagi petani yang memiliki keterbatasan modal untuk mengembangkan porang. Namun peluang pengembangan porang di Kepulauan Bangka Belitung cukup besar mengingat prospek pasar baik di dalam negeri maupun luar negeri yang cukup besar. Kebutuhan akan ekspor porang masih terbuka luas karena baru sepertiga kebutuhan pasar yang terpenuhi oleh produksi porang saat ini. Harga chip porang cukup tinggi dan nilai jual porang semakin meningkat setiap harinya. Selain itu potensi porang ditanam sebagai tanaman sela pada perkebunan lada/karet/kelapa sawit maupun hutan masih luas. Adapun strategi pengembangan porang di Kepulauan Bangka Belitung sebagai berikut : 1. Mengidentifikasi petani dan lahan yang akan menjadi lokasi pengembangan tanaman porang terutama dengan  memanfaatkan potensi lahan perkebunan, pekarangan dan hutan karena dalam pertumbuhannya porang membutuhkan naungan; 2. Pemerintah daerah menjalin kerjasama dengan  perusahaan-perusahaan sebagai off taker dan investor. Perusahaan ini yang akan membantu petani dalam penyediaan bibit bermutu, pendampingan teknologi budidaya dan bertindak sebagai pembeli hasil  panen porang dari petani. Investor diperlukan untuk pembangunan unit pengolahan hasil porang, minimal dalam bentuk keripik (chip); 3. Melibatkan penyuluh pertanian untuk mensosialisasikan kepada petani porang teknologi budidaya porang yang baik dan mendorong petani untuk mengolah produk pertaniannya terlebih dahulu. Inisiatif petani diperlukan untuk mengetahui tentang pengolahan produk serta pengetahuan standar pengiriman porang ke luar negeri sehingga panen yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan eksportir; 4. Mendorong kerjasama antara petani dengan perbankan melalui kredit usaha rakyat (KUR) untuk membantu permodalan petani; 5. Diperlukan penerapan kebijakan dan aturan – aturan hukum oleh pemerintah daerah yang memihak dan mendukung petani porang dalam mengembangkan usahanya

Intan Fortuna Fachrawati, SP Baca Selengkapnya
QR Code Upaya Pengembangan Sistem Perbenihan Tanaman Berbasis Digitalisasi
24 Nov 2020

QR Code Upaya Pengembangan Sistem Perbenihan Tanaman Berbasis Digitalisasi

 leh: Erico Febriandi, ST., M.Si (Pengawas Benih Tanaman Ahli Muda pada UPTD Pengawas dan Sertifikasi Mutu Benih dan Anggota Pergizipangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)   KEMAJUAN tekonologi berdampak pada seluruh lini kehidupan. Muncul dan berkembangnya sistem digitalisasi memaksa semua orang untuk terus berinovasi menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa terkecuali. Bagi yang respon tentu akan bertahan dan berkembang namun bagi yang acuh pasti akan tergilas.   QR Code atau Quick Response Code adalah bentuk evolusi dari Bar Code (Kode Batang) yang satu dimensi menjadi dua dimensi. Gunanya untuk menyimpan data yang lebih besar dari Bar Code. Hal ini sudah lazim digunakan di luar negeri terutama untuk produk elektronik maupun produk makanan. Kini  QR Code akan dimanfaatkan pada sector pertanian terutama yang terkait dengan pelabelan benih khususnya benih tanaman pangan sebagai rangkaian dari proses dan kegiatan sertifikasi benih di Indonesia. Tujuannya untuk mengembangkan pertanian berbasis digital (revolusi 4.0) agar informasi, varietas, mutu, jumlah, waktu serta status benih dapat diakses secara luas. Menteri pertanian Syahrul Yasin Limpo membuat kebijakan untuk meningkatkan kecepatan respon serta mencegah pemalsuan benih yang beredar di masyarakat. Sistem QR Code pada label benih itu sendiri rencananya akan mulai serentak diterapkan dan diuji coba sembari melakukan penyempurnaan pada penerapan aplikasi ini pada tahun  2021 termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai pengganti sistem pelabelan yang sekarang digunakan di benih tanaman pangan. Sejumlah perangkat pendukung telah disiapkan pusat dan telah didistribusikan ke seluruh provinsi di tanah air. Kementerian Pertanian Republik Indonesia berusaha mengembangkan manajemen teknologi informasi berbasis digital. Hal ini tentu baik untuk memberikan jaminan mutu terhadap benih dan diharapkan dapat diwujudkan dengan aplikasi QR Code melalui smartphone.           Melalui optmalisasi informasi maka masalah di lapangan seperti pemalsuan dan tidak sinkronnya data benih diharapkan mampu ditekan sehingga permasalah tersebut dapat diatasi dimasa yang akan datang. Sejumlah produsen benih seperti PT BISI dan PT Syngenta pun mendukung upaya ini untuk membantu meningkatkan informasi dan mutu benih di lapangan, memudahkan pengawasan peredaran benih serta dapat memberikan informasi mengenai stok benih. Selain itu dengan penggunaan QR Code maka layanan publik mengenai informasi  sebaran benih akan sangat mudah dan cepat diketahui oleh masyarakat secara efektif dan transparan. Bahkan dengan QR Code diharapkan antar produsen benih dapat terbantu dalam penyaluran benihnya dan mencegah kecurangan-kecurangan lainnya terjadi.        Kelebihan QR Code dari label yang lama adalah: bersifat universal, mudah diakses dengan smart phone, efisien dan membantu kelancaran informasi. Namun ada pula kekurangannya yakni tidak dibutuhkan akses internet yang memadai dan pelaku usaha perbenihan mesti memiliki kemampuan selalu men-upgrade teknologi yang terus berkembang. Jika uji coba QR pada perbenihan tanaman pangan berjalan baik tak menutup kemungkinan sistem serupa digunakan pula pada benih tanaman hortikultura dan benih tanaman perkebunan pada waktu mendatang. Semoga.*)

Erico Pebriandi ST MSi Baca Selengkapnya
Bank Pakan Upaya Kelompok Peternak Rengak Maju untuk Perkuat Ketahanan Pakan
19 Okt 2020

Bank Pakan Upaya Kelompok Peternak Rengak Maju untuk Perkuat Ketahanan Pakan

Oleh : Gusva Yetti SPt MM Pengawas Mutu Pakan Muda Muda pada Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  PAKAN termasuk salah satu komponen biaya operasional usaha peternakan. Bahkan sekitar enam puluh hingga tujuh puluh persen dari total biaya operasional peternakan adalah biaya pakan. Tingginya biaya pakan tentu dapat mempengaruhi tingkat keuntungan. Karena itu biaya pakan mesti ditekan seminimal mungkin. Salah satu strateginya melalui penggunaan bahan lokal, bermutu, disukai ternak, murah dan tersedia di sepanjang tahun. Apalagi peningkatan jumlah sapi yang dipelihara juga merupakan tantangan bagi peternak untuk menyediakan hijauan dalam jumlah yang lebih banyak, tahan lama dan berkualitas. Potensi bahan pakan yang melimpah dapat diolah, disimpan serta dapat digunakan pada saat dibutuhkan menjadi salah satu upaya untuk menjamin ketersediaan bahan pakan tersebut. Di Provinsi Kepulauan  Bangka Belitung potensi bahan pakan tersebut tersedia cukup banyak diantaranya limbah perkebunan sawit seperti bungkil sawit, solid, pelepah sawit yang belum termanfaatkan secara optimal. Begitu pula dengan limbah pertanian  seperti onggok, daun ubi, kulit ubi, jerami padi, jagung, dedak padi dan daun kacang-kacangan Untuk mempermudah dalam pengelolaan dan penyimpanan bahan pakan maka ada baiknya peternak mendirikan Bank Pakan. Bank Pakan merupakan salah upaya untuk membantu mempermudah peternak dalam kegiatan peternakan. Pembuatan Bank Pakan dengan cara mengolah bahan yang tersedia, lalu menyimpannya dan diberikan kepada ternaknya pada saat dibutuhkan bukan hanya dapat mengoptimalkan waktu dan cara pemberian pakan tetapi juga dapat menghemat waktu dan biaya yang harus dikeluarkan peternak. Selain itu keberadaan Bank Pakan juga merupakan solusi bagi peternak dalam mengatasi keterbatasan hijauan pada saat musim kemarau karena Bank Pakan didirikan memang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi agar sapi dapat tetap mengkonsumsi hijauan pada saat musim kemarau sebagaimana yang dilakukan oleh Kelompok Rengak Maju yang berlokasi di Desa Tugang Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat. Sumber bahan pakan yang tersedia cukup banyak menjadi pemicu kelompok Rengak Maju  untuk mengolah sumber pakan tersebut melalui Bank Pakan.   Pemanfaatan bahan baku yang ada di sekitar lokasi ternak, seperti daun ubi, onggok, kulit ubi, pelepah kelapa sawit, bungkil  sawit, rumput gajah, garam, molasses, serta premix ditambah probiotik selanutnya diolah menjadi feed komplit dalam bentuk silase dapat disimpan dalam waktu lama, sehingga dapat diberikan  pada saat dibutuhkan. Metode pengawetan limbah pertanian yang dilakukan melalui Bank Pakan adalah pembuatan silase berbahan limbah pertanian. Hal tersebut berarti bahwa ternak dapat mengonsumsi hijauan sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Proses silase (ensilage) terjadi dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Prosedur yang dikerjakan dalam pembuatan silase pada prinsipnya harus dapat memacu terjadinya kondisi anaerob dan kondisi asam dalam waktu sesingkat mungkin. Silase yang baik dapat dilihat dari tingkah laku ternak dalam mengonsumsi pakan silase. Ternak akan memakan pakan silase dengan lahap apabila kualitasnya baik. Pakan yang diawetkan melalui proses silase tidak boleh segera diberikan pada ternak setelah diambil dari tempat penyimpanan pakan yang dinamakan silo. Silase yang telah dikeluarkan dari silo sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu.*)

Gusva Yetti SPt MM Baca Selengkapnya
Food Estate Konsep Pengembangan Pangan Terintegrasi
17 Sep 2020

Food Estate Konsep Pengembangan Pangan Terintegrasi

Oleh: Erico Febriandi ST MSi  (Pengawas Benih Tanaman Muda dan PPNS Benih pada Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) MENTERI Pertanian (Mentan) Republik Indonesia Dr Syahrul Yasin Limpo SH MH mengunjungi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bulan Agutsus 2020 lalu. Dalam kurun waktu satu bulan tersebut mantan Gubernur Sulawesi Selatan dua periode itu itu setidaknya dua kali  berkunjung ke Negeri Serumpun Sebalai. Mentan pertama kali hadir ketika panen raya padi sawah di areal persawahan Desa Rias Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan pada tanggal 7 Agustus 2020. Berselang dua pekan kemudian tepatnya tanggal 25 Agustus 2020, Mentan kembali datang untuk melakukan penanaman padi di areal persawahan Desa Batu Betumpang Kecamatan Pulau Besar Kabupaten Bangka Selatan. Bagi sebagian orang mungkin kunjungan Mentan tersebut merupakan hal yang biasa dan tak ada yang istimewa. Namun tidak demikian dengan petani di provinsi ini. Kehadiran Mentan tentu saja memiliki arti dan makna yang sangat dalam. Betapa tidak, pasalnya jarang dijumpai dalam satu bulan seorang menteri datang dua kali ke suatu daerah sebagaimana yang dilakukan Mentan Dr Syahrul Yasin Limpo SH MH di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kehadiran Menteri Pertanian memiliki makna penting sekaligus mengisyaratkan bahwa pemerintah pusat menaruh harapan dan kepercayaan besar terhadap potensi pertanian di daerah ini. Dengan potensi lahan yang luas dan belum tergarap optimal maka Kepulauan Bangka Belitung memiliki kesempatan dan peluang untuk menggarap dan mengembangkan keunggulan komoditas pertanian, apalagi dengan ditetapkannya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai Super Perioritas Perkembangan Pertanian. Dua sentral kawasan perasawahan di Desa Batu Betumpang Kecamatan Pulau Besar dan di Desa Rias Kecamatan Toboali dijadikan fokus utama dalam pembangunan pertanian terutama pangan (food). Dengan adanya program tersebut maka petani berkesempatan untuk mengembangkan lahan pertaniannya berbasis korporasi yang merupakan konsep mengelola organisasi petani secara modern sebagaimana yang sering disampaikan Presiden Joko Widodo. Konsep tersebut diharapkan dapat  meningkatkan level on farm di suatu wilayah sehingga lebih modern dengan memanfaatkan teknologi terbaru untuk mengelola pertanian dari permodalan menggaet perbankan, proses produksi hingga distribusi ke retail terutama melalui pemanfaatan media sosial bagi petani milenial. Wilayah percontohan di Bangka Selatan ini akan menjadi piloting pola korporasi model Food Estate untuk industri pertanian Kepulauan Bangka Belitung yang di pegang oleh PT. IBA (Indonesia Food Argiculture). Food Estate merupakan konsep pengembangan pangan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan bahkan peternakan dalam satu kawasan. Peluang ini harus mampu dimanfaatkan oleh stakeholders terkait agar terjadi domino efek yang  tujuan akhirnya adalah mensejahterakan masyarakat. Ke depan program ini tentu akan membuka peluang untuk pengembangan pertanian, dan sektor lainnya seperti transportasi, perdagangan, pemukiman baru dan peluang bisnis baru yang lain dan wilayah tersebut dapat menjadi kawasan ekonomi khusus dengan pertumbuhan positif di segala sektor. Peluang ini tidak boleh disia-siakan dan harus dimanfaatkan secara optimal demi kesejahteraan petani.  Namun sebaliknya bila kesempatan ini tidak mampu dimanfaatkan dengan baik serta tidak dapat mengubah budaya DKN (Dak Kawah Nyusah) menjadi AKPP (Asak Kawah Pasti Pacak) maka bukan tidak mungkin peluang ini akan hilang dan dimanfaatkan oleh pihak lain.*)

Erico Pebriandi ST MSi Baca Selengkapnya