Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar Pemerintahan, Pertanian dan Ketahanan Pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

PPHT Lada, Upaya Pengendalian OPT Yang Ramah Lingkungan
26 Sep 2021

PPHT Lada, Upaya Pengendalian OPT Yang Ramah Lingkungan

                                                                             Oleh:                                                                   Inggit Almira, S.Si                                                       (UPTD Balai Proteksi Tanaman)                   Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung   LADA (Piper nigrum, L.) merupakan salah satu komoditas ekspor dari produk rempah-rempah yang memiliki peluang startegis dalam bidang agribisnis perkebunan. Salah satu sentra penghasil lada di Indonesia adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berdasarkan data yang bersumber dari Direktorat Jendral Perkebunan pada tahun 2019, luas areal tanaman lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah 52,688 Ha dengan produksi sebesar 33.457,64 ton dan produktivitas sebesar 1,14 Ton/Ha.  Pertanaman lada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebar di Kabupaten Bangka (6.026,43 Ha), Belitung (9.525, 99 Ha), Bangka Barat (6.242,49 Ha), Bangka Tengah (4.169,56 Ha), Bangka Selatan (22.960,50 Ha), dan Belitung Timur (3.763,08 Ha).             Budidaya tanaman lada sering menghadapi berbagai kendala, antara lain serangan hama dan penyakit. Serangan OPT (organisme pengganggu tumbuhan) adalah salah satu faktor yang dapat mengganggu produktivitas tanaman lada sehingga berakibat terhadap menurunnya kuantitas dan kualitas produksi lada. Hal ini dapat mempengaruhi harga lada menjadi rendah.  Organisme pengganggu tumbuhan tersebut diantaranya penyakit busuk pangkal batang (Phytophthora capsici), penyakit kuning (Radophalus similis dan Meloidogyne incognita), jamur pirang (Septobasidium sp.), dan penyakit keriting (pipper yelow mottle virus), serta golongan hama antara lain kepik pengisap buah (Dasynus piperis), penggerek batang/cabang (Lophobaris piperis), dan kepik pengisap bunga (Diconocoris hewetti).                  Salah satu program yang diimplementasikan sebagai upaya Pemerintah dalam mengelola OPT lada yang bersifat ramah lingkungan yaitu melalui Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT). Kegiatan PPHT ini juga bertujuan membantu/mendorong petani untuk menerapkan PHT di kebunnya sehingga dapat dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan serta memberdayakan petani untuk memperbanyak bahan pengendali OPT secara mandiri. Dalam UU No. 12 tahun 1992 mengenai Sistem Budidaya Tanaman pasal 20 berbunyi bahwa Perlindungan Tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan pelaksanaannya menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan pada Pasal 48 mengamanatkan bahwa perlindungan pertanian dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) serta penanganan dampak perubahan iklim, serta pelaksanaannya menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya, petani, pelaku usaha, dan masyarakat. Konsep PHT menekankan bahwa penggunaan pestisida kimia sintetis masih dapat digunakan, tetapi aplikasinya dilakukan sebagai alternatif pengendalian terakhir jika cara-cara pengendalian lainnya tidak mampu mengatasi serangan OPT.             Pada tahun 2021, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah mengalokasikan kegiatan PPHT lada di Kabupaten Bangka Barat dengan luas lahan tanaman lada seluas 50 ha yang dilaksanakan di Kelompok Tani Dendang Bersatu Desa Dendang dan Kelompok Tani Usaha Tani Sejahtera Desa Pangek. Sedangkan di Kabupaten Bangka Tengah seluas 50 Ha dilaksanakan di Kelompok Tani Bina Tani Sejahtera Desa Perlang dan Kelompok Tani Mandiri Jaya Desa Teru. Kegiatan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu lada di Gapoktan Mandiri Jaya Desa Teru Kecamatan Simpang Katis Kabupaten Bangka Tengah diketuai oleh bapak Ismail dengan luas tanam lada seluas 25 Ha.             Kegiatan PPHT lada dilaksanakan oleh UPTD Balai Proteksi Tanaman Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dengan salah satu tugas dan fungsi pokoknya adalah memberikan dukungan perlindungan tanaman salah satunya tanaman perkebunanan dalam rangka pengamanan produksi tanaman perkebunan dari gangguan/serangan OPT. Kegiatan PPHT ini dilaksanakan sebanyak 6 kali dengan interval waktu satu minggu. Tahapan kegiatan yang dilakukan dalam penerapan PHT lada diantaranya sosialisasi, pengambilan dan identifiaksi masalah di kebun masing-masing yang selanjutnya dilakukan analisis untuk mendapatkan keputusan tindakan yang akan dilakukan, tindakan penerapan teknologi penerapan PHT meliputi sanitasi, mekanis, pemangkasan, penyiangan, pembuatan rorak, parit keliling, saluran drainase, pemulsaan dengan seresah, praktek pembuatan dan aplikasi Metabolit Sekunder (MS) Agens Pengendali Hayati (APH) pada sekitar perakaran melalui penyiraman/penyemprotan dan pembuatan serta aplikasi kompos dan kegiatan Field day yang dilakukan dengan peserta pekebun menunjukkkan hasil kegiatan yang telah dilakukan selama pertemuan dan penerapan PHT kepada petani lainnya yang tidak mengikuti kegiatan.             Pada tanggal 04 Agustus 2021, telah dilakukan kegiatan PPHT lada di Gapoktan Mandiri Jaya Desa Teru Kecamatan Simpang Katis Kabupaten Bangka Tengah. Kegiatan tersebut meliputi praktek perbanyakan Metabolit Sekunder (MS) APH berupa MS jamur dengan media biakan yaitu tepung terigu dan gula. Sedangkan isolat jamur berasal dari starter biakan jamur dan bakteri dari Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit/Laboratorium Agens Hayati (LPHP/LAH) UPTD Balai Proteksi Tanaman atau jamur dari kelapa/tongkol jagung atau ulat/serangga mati karena jamur, gula pasir, air cucian beras dan air kelapa tua. Kegiatan ini didampingi oleh Hendra Kusnadi, S.P dan Zali, S.P selaku Koordinator POPT UPTD Balai Proteksi Tanaman Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.             Dari kegiatan PPHT lada ini diharapkan kelompok tani yang telah mengikuti kegiatan penerapan PHT dapat menerapkan PHT secara mandiri di kebunnya dan mampu menularkan ke petani di sekitarnya serta pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi/Kabupaten/Kota dapat memfasilitasi pembinaan/pendampingan pada petani, agar penerapan PHT dan kelembagaan petani semakin baik dan berkelanjutan.*) Sumber : BPS Babel. 2021.  Statistik Perkebunan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung: Lada 2019. Pangkal Pinang, Babel. Ditjenbun. 2019. Pedoman Teknis Penanganan Organisme Penganggu Tumbuhan (Penerapan Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Perkebunan) Tahun 2019. Ditjenbun, Jakarta. Ditjenbun.2021. Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) Lada di Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ditjenbun, Jakarta. Ditjenbun. 2020. Statistik Perkebunan Indonesia: Lada 2018-2020. Ditjenbun, Jakarta.

Inggit Almira SSi/Fotografer: Hendra Kusnadi SP dan Zali SP Baca Selengkapnya
KUR Sapi, Solusi Peternak di Masa Pandemi
27 Agt 2021

KUR Sapi, Solusi Peternak di Masa Pandemi

Oleh: Muhammad Taufiq Alamsyah, S.Pt, M.Sc (Pejabat Fungsional Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) Alumni Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada PEMBANGUNAN pertanian termasuk subsector peternakan akan tetap memegang peran strategis dalam perekonomian nasional, bahkan jauh sebelum pandemi covid-19 melanda Indonesia. Peran strategis tersebut digambarkan melalui kontribusi yang nyata melalui penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, bioenergi, penyerapan tenaga kerja, sumber devisa negara dan sumber pendapatan serta pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani yang ramah lingkungan. Sektor peternakan di Indonesia baik di tingkat daerah ataupun nasional yang memang didominasi oleh peternak rakyat seolah menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Bukan tanpa alasan, peternak rakyat dengan segala keterbatasan yang dimiliki mulai dari rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya pengalaman, usia yang tidak produktif lagi, minimnya pemanfaatan teknologi hingga terbatasnya akses permodalan menjadi pekerjaan rumah yang masih belum terselesaikan hingga saat ini. Dalam kaitannya terhadap akses permodalan, pemerintah merumuskan berbagai skema kredit dan program kerjasama. Salah satunya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus pertanian. KUR pertanian merupakan salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah pusat namun sumber dana berasal sepenuhnya dari perbankan. Selain itu, akan ada jaminan penyediaan bakalan dan pembelian ternak saat panen oleh offtaker (pihak swasta) dan jaminan dari perusahaan asuransi ternak. Dalam skema ini kredit/pembiayaan yang diberikan kepada petani/peternak adalah tanpa anggunan, bunga yang rendah serta dapat dibayarkan setelah panen (yarnen). KUR ini dapat dimanfaatkan untuk membiayai semua usaha produktif pertanian termasuk subsektor peternakan yang layak dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan perbankan. Oleh karena itu pemerintah pusat gencar mendorong pemanfaatan KUR di tiap daerah termasuk KUR sapi potong di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Progress dan Manfaat KUR Sapi di Bangka Belitung  KUR sapi potong di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini telah berlangsung sebanyak dua tahapan. Tahapan I dimulai pada bulan agustus 2020 hingga februari 2021 yang diikuti oleh 38 peternak sebagai debitur. Nilai total kredit mencapai 1,9 milyar dimana masing-masing peternak memperoleh pinjaman senilai 50 juta yang diberikan dalam bentuk 2 ekor sapi dan sarana prasarana pendukung lainnya. Data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan rata-rata keuntungan yang diperoleh pada tahapan yang pertama ini mencapai 500 ribu rupiah untuk tiap ekor ternak. Ini berarti bahwa tiap peternak pada satu periode penggemukkan memperoleh keuntungan yang tidak begitu tinggi, yakni hanya sekitar 1 juta rupiah. Namun, pada pelaksanaan KUR tahap II (Pebruari – Juli 2021) telah terjadi peningkatan yang cukup signifikan baik dari jumlah peserta ataupun tingkat keuntungan yang diperoleh. Pada KUR sapi tahap II yang telah dilakukan jumlah peserta mencapai 96 orang. Total kredit yang diberikan juga mencapai 4,6 milyar rupiah dengan rincian tiap debitur memperoleh 50 juta rupiah dalam bentuk ternak dan sarana prasarananya. Total ternak yang diserahkan mencapai 290 ekor, yang merupakan sapi jenis Madura yang dipersiapkan sebagai hewan kurban pada perayaan Idul Adha beberapa waktu yang lalu. Keuntungan yang diperoleh pun sangat tinggi, yakni  lebih dari 3 juta rupiah per ekor ternak. Artinya, jika satu orang debitur memelihara tiga ekor ternak maka dalam satu periode diperoleh keuntungan minimal 9 juta rupiah. Hal ini tentu merupakan suatu pencapaian yang luar biasa. Apalagi pada masa pandemi di mana hampir seluruh elemen masyarakat termasuk petani peternak merasakan dampak yang luar biasa. Kehadiran KUR sapi dengan bukti keuntungan yang telah diberikan seolah menjadi “obat” bagi para peternak local di tengah pandemi. Akan tetapi pelaksanaan KUR pada tahap I dan II bukannya tanpa kendala. Apalagi program ini masih tergolong baru di  sehingga masih membutuhkan banyak perbaikan dan penyempurnaan baik dari aspek teknis ataupun non teknisnya. Pelaksanaan KUR tahap I bahkan berhadapan dengan masalah teknis yang cukup mendasar sehingga menyebabkan keuntungan yang diperoleh peternak menjadi tidak maksimal. Permasalahan tersebut antara lain : 1) bobot badan sebagai patokan harga jual dari offtaker ke peternak ditentukan saat masih  di tempat penjualan ternak di luar Babel sehingga saat sampai di Pangkalpinang telah terjadi penyusutan bobot badan yang cukup tinggi; 2) harga jual ternak saat panen juga sudah dipatok di awal, sehingga pada saat ada kenaikan harga, tidak akan berpengaruh terhadap harga jual dari peternak; dan 3) formulasi pakan ternak yang digunakan tidak sesuai akibat dari kurangnya persiapan pakan selama periode penggemukan ternak yang menyebabkan pertambahan bobot ternak kurang optimal. Berkaca pada berbagai kendala yang dihadapi pada tahap I maka pada pelaksanaan tahap II sudah dilakukan berbagai upaya perbaikan dan penyesuaian oleh pemerintah daerah. Selain karena tingginya pembelian ternak pada momen hari raya kurban, upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah juga nyatanya memberikan hasil yang menggembirakan melalui tingginya tingkat keuntungan yang diperoleh peternak. Harapan ke Depan dan Komitmen Pemerintah Harapan kita dalam menyikapi program KUR sapi ini tentunya bukan hanya berfokus pada nilai riil keuntungan yang diperoleh peternak sebagai debitur melainkan harus memikirkan juga dampak luas dan jangka panjangnya dalam mendukung peningkatan produktivitas peternakan daerah pada umumnya dan kesejahteraan peternak lokal khususnya. Sehubungan dengan itu pemerintah pusat maupun daerah harus bisa mengkaji lebih jauh dan yang paling utama menyiapkan skenario kebijakan lainnya dalam mendukung peternak lokal sebagai stakeholder dominan dalam kerangka pembangunan peternakan di Kepulauan Bangka Belitung. Dalam konteks ini tentunya peternak sudah memiliki pandangan masing-masing dalam menyikapi program KUR penggemukan sapi, apalagi jika dilihat dari potensi keuntungan yang telah mereka peroleh pada Tahap I dan II. Akan tetapi dalam konteks pembangunan peternakan, keuntungan peternak harus selaras dengan peningkatan populasi ternak. Tidak ada cara lain, selain pemerintah daerah harus lebih jeli dan melihat dari perspektif yang lebih luas terkait perumusan instrumen kebijakan lainnya yang berbasis potensi daerah dalam rangka mendorong kinerja peternakan rakyat sebagai ujung tombak pembangunan peternakan di Babel. Namun paling tidak, biarkan peternak lokal menikmati “manisnya” KUR, setelah selama ini bersabar merasakan “hambarnya” beternak sapi karena nyatanya untuk saat ini KUR sapi memang layak menjadi solusi ditengah pandemi.*)

Muhammad Taufiq Alamsyah, S.Pt, M.Sc Baca Selengkapnya
Hari Jadi Peternakan Dan Kesehatan Hewan 2021, Momentum Bangkitnya Ekonomi di Tengah Pandemi
26 Agt 2021

Hari Jadi Peternakan Dan Kesehatan Hewan 2021, Momentum Bangkitnya Ekonomi di Tengah Pandemi

PANDEMI Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang mengganas sejak setahun lalu memaksa semua sektor kehidupan melemah. Tak cuma perekonomian masyarakat yang terganggu, pelayanan jasa dan keuangan juga ikut terhambat tak terkecuali subsektor peternakan. Hal ini tergambar dari permintaan unggas yang terus menurun, harga bahan baku pakan yang semakin tinggi hingga  daya beli masyarakat yang tak sebagus sebelum corona mewabah. Hari jadi Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2021 yang jatuh pada hari ini dan diperingati setiap tanggal 26 Agustus setiap tahun mesti dijadikan momentum bangkitnya ekonomi melalui subsektor peternakan. Melalui tema “Kesehatan Hewan Tanguh, Peternakan Indonesia Tumbuh, Peternakan dan Kesehatan Hewan Berjaya, Masyarakat Indonesia Sejahtera” pandemi menjadi tantangan yang harus dihadapi negeri ini khususnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam rangka memenuhi capaian target dan sasaran menjadi Lumbung Pangan Asal Ternak  di tahun 2024 atau yang sering disingkat BABEL LUMPAT 2024. Pembangunan peternakan tidak cuma terfokus pada penyediaan protein hewani asal ternak tetapi juga dapat dijadikan penyedia lapang pekerjaan baik pada on farm maupun di off farm nya sehingga dapat dikatakan subsektor peternakan dapat dijadikan roda penggerak  ekonomi. Serangkaian kebijakan dan strategi telah disiapkan dan dilaksanakan oleh Pemerintah  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, diantaranya Pengembangan  Integrasi Sawit Sapi Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit yang telah menghasilkan berdasarkan Peraturan Gubernur No 48 Tahun 2019 yang salah satu isi poinnya adalah setiap sepuluh hektar lahan kelapa sawit milik perusahaan perkebunan yang sudah menghasilkan wajib memelihara satu ekor sapi di dalam areal perkebunan. Potensi sumber pakan yang tersedia dilahan perkebunan sawit dapat dimanfaatkan oleh sapi dan kotorannya  dapat dijadikan pupuk bagi sawit. Biaya pemupukan dan penyiangan dapat ditekan serta penambahan pendapatan dari penjualan ternak. Peningkatan populasi ternak dari luasan lahan perkebunan kelapa sawit perusahaan yang telah menghasilkan seluas 163.708,68 hektar tersebut adalah  16.371 ekor atau akan ada penambahan  lebih dari 100 persen  dari populasi 15.743 ekor saat ini.   Memang kewajiban memelihara satu ekor sapi untuk sepuluh hektar lahan sawit yang sudah menghasilkan masih jauh dari kapasitas tampung. Kapasitas sapi di lahan sawit yang sudah menghasilkan adalah 2,7 satuan ternak ( Matius, 2004) yang berarti bahwa untuk satu hektar lahan sawit dapat menampung ternak sapi dua hingga hingga ekor sapi. Strategi lainnya adalah dengan peningkatan kelahiran ternak baik melalui IB (Inseminasi Buatan) atau kawin suntik maupun kawin alam pada Kegiatan SIKOMANDAN. Target Akseptor tahun 2021 sebanyak 1000 ekor, realisasi sampai saat ini sudah 83 persen IB, realisasi bunting 816  atau 99,63 persen dari 819 sapi  serta lahir 674 ekor  atau 94,80 persen dari target 711 ekor. Penambahan indukan sapi potong dengan penguatan pada kelompok hampir tiap tahun dilakukan. Pendistribusian indukan tersebut juga didukung bantuan bibit hijauan pakan berkualitas. Tahun 2021 ini saja ada penguatan untuk 80 ekor sapi jenis PO untuk 8 kelompok yang tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Selatan, Belitung dan Belitung Timur. Selain itu pendistribusian sapi juga dilakukan melalui kegiatan UPPO sebanyak 14 paket untuk 14 kelompok dengan rincian setiap kelompok mendapatkan 8 ekor sapi, alat/sarana UPPO, sarana pengangkut berupa kendaraan roda tiga. Kemudian Balai Benih Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga mendistribusikan sapi untuk kelompok peternak tahun ini. Penguatan permodalan melalui kredit usaha  rakyat  (KUR) penggemukkan sapi potong sudah menfasilitasi peternak sebanyak dua tahap dan pada tahap kedua ini KUR menfasilitasi delapan kelompok peternak sebanyak 96 orang atau 290 ekor sapi dengan dana yang terserap lebih dari 500 juta rupiah. Dampak pembangunan peternakan berdampak pada Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Laporan Badan Pusat Statistik menyebutkan perkembangan NTP pada Mei 2021 mengalami kenaikan indeks dari 106,41 menjadi 108,62 atau naik sebesar 2,07 persen dibandingkan pada bulan April 2021. Naiknya indeks ini disebabkan oleh naiknya It sebesar 2,28 persen lebih tinggi dari naiknya Ib sebesar 0,20 persen. Kenaikan It disebabkan oleh naiknya indeks pada kelompok ternak besar sebesar 2,53 persen, unggas sebesar 2,54 persen dan hasil-hasil ternak/ unggas sebesar 0,88 persen. Komoditas yang menyebabkan kenaikan It terbesar pada subsektor peternakan yaitu ayam ras pedaging dan sapi potong. Peningkatan Ib dikarenakan oleh kenaikan indeks kelompok KRT sebesar 0,38 persen dan kenaikan indeks BPPBM sebesar 0,06 persen. Artinya apabila nilai NTP lebih dari 100 sudah ada keuntungan yang diterima oleh petani lebih baik lagi apabila nilai terima (lt)  lebih tinggi dari nilai beli (lb). Walaupun dampak ekonomi pembangunan peternakan sudah memberikan nilai positif khususnya bagi peternak tapi perjuangan untuk mencapai Kepulauan Bangka Belitung Swasembada Sapi atau dikenal dengan BABEL LUMPAT 2024 harus terus diupayakan. Hal ini  memerlukan kerja keras, komitmen semua pihak, bukan hanya pemerintah  pusat/ provinsi, kab/kota tetapi juga peranan pengusaha/ swasta khususnya perkebunan kelapa sawit, perbankan, asosiasi – asosiasi  profesi peternakan, peneliti/perguruan tinggi dan kelompok/petani/peternak itu sendiri. Melalui hari jadi Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2021 ini mari terus kita kobarkan semangat untuk terus berpikir dan berbuat untuk bangkit dan membangun peternakan tangguh menuju masyarakat Indonesia Sejahtera.*)

Gusva Yetti SPt MM Baca Selengkapnya
Asam Amino Dan Manfaatnya Bagi Tanaman
19 Jul 2021

Asam Amino Dan Manfaatnya Bagi Tanaman

                                                                       Oleh:                                                                 Abdul Syukur, ST                                                (Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda                      Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)   ASAM amino adalah protein yang sudah dipecah melalui proses metabolisme menjadi molekul-molekul kecil sebagai bahan dasar untuk proses biosintesis. Secara umum ada lebih dari 20 jenis asam amino dalam proses biosintesis. Selain manusia, tanaman juga membutuhkan asam amino untuk meningkatkan hasil dan kualitas secara keseluruhan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya asam amino secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi aktivitas fisiologi tanaman. Kebutuhan asam amino dalam jumlah esensial pada tanaman dapat meningkatkan hasil dan kualitas secara keseluruhan. Secara umum tanaman mampu mensintesis asam aminonya sendiri melalui bahan dasar karbon, oksigen, hidrogen dan nitrogen melalui proses biokimia yang kompleks namun membutuhkan energi yang besar. Tanaman mensintesis asam amino dari unsur-unsur primer seperti karbon dan oksigen yang diserap melalui udara, air dan tanah. Unsur primer itu membentuk karbohidrat melalui proses fotosintesis dan menggabungkannya dengan unsur nitrogen sehingga terbentuk asam amino. Selain dibuat oleh tanaman sendiri, asam amino juga dapat diperloeh dari luar dengan cara memberi pupuk asam amino. Produk yang mengandung nutrisi dalam bentuk protein hidrolisat (cairan asam amino) dapat disemprotkan ke daun untuk meningkatkan sintesis protein. Asam amino bisa diaplikasikan dengan cara disemprot ke semua bagian tumbuhan atau dikocor ke tanah. Dengan asupan asam amino dari luar, tanaman dapat menghemat penggunaan energi sehingga bisa digunakan untuk proses metabolisme lainnya. Disamping  untuk kebutuhan metabolisme tanaman, manfaat lainnya adalah asam amino melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Tanaman dengan kandungan asam amino yang mencukupi akan membentuk ekstrak pektin di antara dinding sel sehingga lebih keras dan tahan serangan hama. Sebaliknya Asam amino juga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan mendukung proses asimilasi nutrisi bagi akar tanaman. Disisi lain pemberian kalsium kelat asam amino ke tanah dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan nilai brix (tingkat kemanisan) buah dan efisiensi air pada sistem vaskular tanaman. Kalsium kelat asam amino juga berperan bisa memacu tanaman untuk menghasilkan metabolit sekunder yang dapat mengurangi dan mencegah kerusakan bagian tanaman dari serangan hama dan penyakit. Pemberian kalsium kelat asam amino pada tanaman dapat membantu memperkuat sistem kekebalan alami tanaman dan mengurangi penggunaan pestisida maupun fungisida. Sifat Kimia Asam Amino Asam amino mempunyai 2 gugus kimia penyusun yang saling berlawanan sifat yaitu gugus amina ( - NH2) yang bersifat basa dan gugus karboksil ( - COOH) yang bersifat asam. Akibat adanya dua gugus ini, maka asam amino dapat bereaksi baik dengan asam maupun basa. Sifat ini disebut amfoter. Apabila kedua gugus tersebut terion maka dalam sebuah molekul asam amino akan terdapat dua buah ion yang berbeda yaitu COO- dan NH3+. Reaksi pembentukan zwitter ion pada molekul asam amino. Pada ssat konsentrasi ion zwiternya mencapai maksimum dan konsentrasi asam dan basa konjugasinya sama, makan laritan asam amino dapat menghantarkan listri. Dalam keadaan ini larutannya tidak akan mengalami elektrolisis, artinya bahwa tidak ada perubahan ion dalam larutan, sehingga pHnya akan realtif sama. Pada saat tercapai keadaan dimana pH tidak berubah maka larutan ini dikatakan mencapai titik isoelektrik diatas. pH isoelektrik asam amino akan bermuatan negatif yang berakibat akan ditarik kearah elektroda positif saat dielektrolisis dan sebaliknya jika pH dibawah ph Isoelektrik maka asam amino akan bermuatan positif dan diatrik kearah elektroda negative. Sifat Fisika Asam Amino Asam amino adalah zat yang sangat mudah mengkristal, pada umumnya larut dalam air. sedikit atau bahkan tidak larut dalam alkohol dan tidak larut sama sekali dalam air. Artinya adalah asam amino itu lebih mudah larut dalam pelarut polar dan tidak larut dalam pelarut nonpolar Contoh : Tirosin sedikit larut dalam air dingin, tetapi jika airnya kita panaskan maka ia akan larut dengan baik. Sistein sukar larut dalam air dingin maupun air panas, tetapi akan lebih mudah larut dalam asam atau basa encer. Titik lebur asam amino berada diatas 200 sampai 300 derajat celsius. Asam amino sebagian besar akan mengalami perubahan jika dipanaskan sampai titik leburnya. Asam amino ada yang mempunyai rasa manis, pahit ataupun tidak berasa. Monosodium glutamat itu tidak mempunyai rasa, namun apabila dipakai sebagai bumbu masakan maka berfungsi sebagai penguat cita rasa. Semua asam amino mempunyai atom C yang asimetris, yaitu atom C alfa yang mengikat gugus amino, namun beberapa diantaranya mempunyai dua buah atom C yang simetris Atom C asimetri adalah atom C yang keempat ikatan kovalennya diikat oleh gugus yang berbeda Namun beberapa asam amino bahkan memiliki 2 buah stom C asimetri. Fungsi Pupuk Asam Amino Asam amino memainkan 3 peran dalam pertumbuhan tanaman: 1. Sumber tambahan nutrisi nitrogen 2. Agen chelating untuk ion logam Asam amino memiliki fungsi ion logam chelating, dan mudah untuk membawa unsur-unsur medium dan jejak (kalsium, magnesium, besi, mangan, seng, tembaga, molibdenum, boron, selenium, dll.) Yang dibutuhkan oleh tanaman ke dalam tanaman. Juga, asam Amino meningkatkan pemanfaatan berbagai nutrisi tanaman 3. Asam amino adalah promotor dan katalis untuk sintesis berbagai enzim pada tanaman, dan memainkan peran penting dalam metabolisme tanaman. Namun, asam amino mudah berasimilasi dan terurai oleh bakteri di dalam tanah, sehingga tidak cocok untuk digunakan sebagai pupuk dasar dalam tanah Sebaliknya, itu dibuat menjadi pupuk daun dan disemprotkan pada daun untuk memungkinkan tanaman menyerap asam amino dan elemen lainnya langsung melalui daun Manfaat Asam Amino Terhadap Tanaman Secara Spesifik Report this ad Menghindari Stres Lingkungan Kondisi stres lingkungan seperti suhu tinggi, kelembaban rendah, kekeringan, serangan hama, banjir, atau fitotoksik akibat pestisida memiliki efek negatif terhadap metabolisme tanaman menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi tanaman. Aplikasi asam amino dari luar baik sebelum, selama, atau setelah terjadinya stres lingkungan akan memberikan asupan asam amino yang secara langsung berhubungan dengan pengelolaan fisiologis pada tanaman akan berdampak baik pada tanaman karena tidak membutuhkan energi yang besar untuk membuat asam amino sendiri. Meningkatkan Kandungan Klorofil dan Laju Fotosintesis Tanaman melakukan fotosintesis untuk memproduksi karbohidrat. Tingkat fotosintesis yang rendah akan berakibat pada berkurangnya sintesis karbohidrat (fotosintat). Kandungan klorofil sangat berperan dalam proses fotosintesis terhadap penyerapan energi cahaya matahari. Semakin tinggi klorofil, laju fotosintesis juga lebih tinggi. Aplikasi asam amino akan meningkatkan kandungan klorofil pada daun sehingga laju fotosintesis menjadi lebih tinggi. Agen Kelasi Unsur Hara Mikro Asam amino memiliki efek kelasi nutrisi mikro. Kelasi adalah ikatan kimia antara agen pengkelat ion logam. Bila diapalikasikan bersama dengan nutrisi mikro, penyerapan dan transportasi unsur hara mikro akan lebih mudah. Asam glisin dan glutamat dalam asam amino adalah zat pengkelat yang sangat efektif. Sebagai hormon pengatur pertumbuhan tanaman Asam amino adalah senyawa yang membentuk beberapa hormon/ zat pengatur tumbuh. Hormon tanaman seperti auksin, sitokinin, giberelin, dan hormon terkait dengan terbentuknya bunga dihasilkan dari sintesis asam amino. Sintesis tersebut dibantu oleh prekursor. Metionin adalah prekursor etilen, triptofan adalah prekursor auksin sedangkan arginine menginduksi pembentukan hormon pembungaan. Mengatur Pembukaan Stomata Stomata berperan dalam regulasi keseimbangan kelembaban didalam tanaman melalui proses transpirasi serta membantu pengangkutan/transportas nutrisi di dalam tanaman. Saat stomata ditutup, maka laju fotosintesis dan transpirasi semakin berkurang, sehingga penyerapan unsur makro dan mikro akan menurun. Hal ini menyebabkan terganggunya proses metabolisme tanaman yang berakibat pada penurunan produksi tanaman. Aplikasi asam amino akan membuat stomata terbuka lebih lamasehingga akan terjadi peningkatan metabolisme tanaman Meningkatkan Aktivitas Mikroba Tanah Asam amino adalah nutrisi bagi mikroba tanah. Aplikasi asam amino ke dalam tanah akan meningkatkan aktivitas dan populasi mikroba menguntungkan. Keseimbangan dan aktivitas mikroba yang tinggi di dalam tanah akan memperbaiki mineralisasi bahan organik di dalam tanah, sehingga meningkatkan kesuburan tanah. Jika siklus hara berjalan dengan baik dan ketersediaan nutrisi ke tanaman menjadi lebih banyak, maka keberadaan mikroba tanah merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas tanah. Aplikasi Asam amino bisa digunakan untuk tujuan memperbesar buah, umbi, batang tanaman bahkan getah tanaman yang bisa disesuaikan dengan jenis metoda yang dituju untuk hasil yang optimal, baik komoditas tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan*).

Abdul Syukur, ST Baca Selengkapnya
Yo Kite Beternak  
5 Jul 2021

Yo Kite Beternak  

Oleh: Gusva Yetti SPt MM (Pengawas Mutu Pakan Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)   ALHAMDULILLAH, Usaha Peternakan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Beruntung. Yo Kite Beternak   Hari ini, aku mencoba membuat tulisan kecil tentang pakan ternak yang sering diangap orang gulma baik dilahan pertanian, perkebunan, pingir jalan, pekarangan rumah dan lain-lain. Karena tanaman ini memang gampang hidup dilahan terbuka maupun dibawah naungan. Tanaman gulma yang penulis maksudkan adalah Asystasia gangetica. Di Bangka Belitung,  ada sebagian peternak yang sudah memberikannya sebagai pakan pada sapi peliharaannya karena memang disukai oleh ternak ruminansia dan kelinci. Malah penulis sendiri juga pernah melihat dan mencoba pada ayam merawang dan   itik walaupun jumlahnya harus dibatasi  karena kemampuan unggas terbatas dalam mencerna serat hijauan. Mencoba mengangkat tema beberapa bahan pakan lokal yang murah kalau bisa tidak beli, jumlahnya banyak, nilai gizi bagus, disukai ternak sehingga dapat menekan biaya operasional. Karena pakan 60-70 % dari total biaya operasional. Tanaman ini  sering  juga disebut rumput kelinci atau rumput Ara Sunsang.  Kandungan Nutrisinya yang cukup tinggi  berupa bahan kering  23,30% , Protein Kasar  20,35%, Lemak Kasar 3,39%, Serat Kasar 29,49%,  Kalsium 0,90%, Phospohor 0,38 % dan TDN 53,07 %.  Sementara penelitian lainnya melaporkan kandungan mineralnya cukup tinggi juga, yaitu Ca 17,1 g/kg , K 4,0 g/ kg , P 13,4 g/kg, Mg 10,7 g/kg, Zn 1,8 mg/kg, Cu 37,2 mg/kg, dan Mn 4,3 mg/kg    ( Ageaet al., 2014) dalam Irza Nofriyanti (2016). Asystasia ini merupakan salah satu bahan pakan ternak lokal yang banyak terdapat di Bangka Belitung, harganya murah bahkan gratis, mudah didapat serta disukai oleh ternak. Bahan pakan lokal lainnya seperti limbah ubi berupa batang, kulit dan daun, onggok. Limbah perkebunan sawit berupa batang dan daun, pelepah, bungkil inti sawit, solid, janjang kosong. Limbah jagung dan padi berupa jerami, dedak,sekam, menir,  bongkol jagung maupun jagungnya sendiri. Selanjutnya ada limbah pengolahan sagu, tempe, tahu. Potensi  lainnya adalah rumput liar/ alam lainya yang memang banyak tersebar baik dirawa-rawa, tegalan sawah, bekas lahan tambah timah dll.  Walau sebaiknya menaman rumput unggul baik secara hamparan maupun ditumpansari dengan tanaman lainnya sehingga ketersediaan dan kualitas rumput akan terjamin. Sedangkan sapi potong masih dipasok dari luar Bangka Belitung sehingga pasar sudah siap menerima. Limbahnya berupa kotoran padat dan cair juga menambah nilai usaha karena dapat dijual sebagai bahan pupuk organik tanaman perkebunan, pertanian serta perbaikan struktur tanah eks tambang Keberadaan perusahaan pembibitan cukup mendorong agribisnis ayam pedaging sehingga sudah dapat memenuhi kebutuhan  Bangka Belitung sendiri dan bahkan kadang-kadang juga dikirim ke palembang. Laporan Badan Pusat Statistik  Perkembangan Nilai Tukar Petani Provinsi Kep. Bangka Belitung Mei 2021 pada Subsektor Peternakan (NTPT) Pada bulan Mei 2021, NTPT mengalami kenaikan indeks dari 106,41 menjadi 108,62 atau naik sebesar 2,07 persen dibandingkan pada bulan April 2021. Naiknya indeks ini disebabkan oleh naiknya It sebesar 2,28 persen lebih tinggi dari naiknya Ib sebesar 0,20 persen. Kenaikan It disebabkan oleh naiknya indeks pada kelompok ternak besar sebesar 2,53 persen, unggas sebesar 2,54 persen dan hasil-hasil ternak/ unggas sebesar 0,88 persen. Komoditas yang menyebabkan kenaikan It terbesar pada subsektor peternakan yaitu ayam ras pedaging dan sapi potong. Peningkatan Ib dikarenakan oleh kenaikan indeks kelompok KRT sebesar 0,38 persen dan kenaikan indeks BPPBM sebesar 0,06 persen. Angka diatas berarti apabila nilai Nilai Tukar Petani lebih dari 100 berarti sudah ada keuntungan yang diterima oleh petani lebih baik lagi apabila nilai terima (lt)  lebih tinggi dari nilai beli (lb). Selain itu dukungan pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung cukup kuat dalam peningkatkan populasi ternak, penguatan permodalan usaha serta peningkatan pelayanan kesehatan hewan, peningkatan nilai tambah usaha agribisnis tersebut. Tahun 2021 ini penguatan permodalan melalui  kredit usaha  rakyat  (KUR) penggemukkan sapi potong sudah menfasilitasi  peternak sebanyak  2 tahap. Pada tahap ke 2 ini menfasilitasi 8 kelompok dengan jumlah peternak 96 orang atau 290 ekor sapi. komoditi penggemukkan domba masih dalam proses penggumpulan peternak. Untuk peningkatan populasi sapi potong tahun 2021 ini akan didistribusikan sapi sebanyak 80 ekor pada 8 kelompok, 14 paket untuk 14 kelompok kegiatan UPPO dengan rincian setiap kelompoknya sapi 8 ekor, alat/saran UPPO, sarana pengangkut(motor roda 3), selain itu juga pendistribusian sapi  dari Balai Benih. Yo kite beternak, nak nunggu ape agi...... Ternak Bertambah, tanaman banyak buah, Rezeki Melimpah, Anak Bisa Sekolah, Kumpul Modal tuk ke Mekah, Jangan Lupa  Sedekah. Semoga  Babel Berkah*)  

Gusva Yetti SPt MM Baca Selengkapnya
Bungkil Sawit, Strategi Pemenuhan Pakan Ternak Melalui Penggunaan Bahan Lokal
26 Apr 2021

Bungkil Sawit, Strategi Pemenuhan Pakan Ternak Melalui Penggunaan Bahan Lokal

Oleh: Gusva Yetti SPt MM (Pengawas Mutu Pakan Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)   KEBERHASILAN pelaksanaan program penggemukan sapi tidak bisa dilepaskan dari pakan. Penyiapan pakan yang berkualitas, murah serta selalu tersedia dan disukai ternak sehingga pemenuhan kebutuhan pakan dapat terpenuhi dengan harga yang murah menjadi salah satu strategi kesuksesan peternak. Strategi dalam pemenuhan pakan tersebut diantaranya penggunaan bahan pakan lokal seperti bungkil inti sawit dan onggok. Kebutuhan pakan bahan seperti limbah pabrik ubi dan kelapa sawit harus dihitung secara berkelompok sehingga pengiriman  lebih efektif dan murah. Seperti diketahui bahwa seiring dengan digulirkannya Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi peternak, usaha penggemukan sapi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung lagi masif dilakukan peternak. KUR  merupakan salah satu program pemerintah dalam memperkuat permodaalan usaha dimasyarakat dengan suku bunga yang rendah. Salah satu sasaran program KUR ini pada sektor pertanian. Penyerapan KUR di Bangka Belitung 80 persen diserap pada sector Pertanian termasuk sub sector Peternakan. Tujuan KUR penggemukan sapi di Bangka Belitung diantaranya memperkuat modal usaha bagi peternak penggemukan sapi dengan  harapan dapat membantu menyuplai kebutuhan daging di Bangka Belitung, meningkakan pendapatan, membuka lapangan pekerjaan serta kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Realisasi KUR di Bangka Belitung sudah memasuki tahap ke kedua dengan jumlah peternak 96 orang dengan populasi sapi sebanyak 290 ekor sapi, mengalami peningkatan sebanyak 252,6 persen peternak dan peningkatan jumlah sapi 381,5 persen dibandingkan dengan KUR tahap I sebanyak 38 orang  peternakn dengan jumlah sapi sebanyak 76 ekor. Sasaran sapi KUR tahap kedua ini lebih difokuskan untuk penyediaan sapi qurban, walaupun pemenuhannya masih sedikit yaitu 11,6 persen dari kebutuhan sapi qurban di Bangka Bellitung.   Kelompok penerima kegiatan KUR tahap II di Bangka Tengah ada 4 kelompok yaitu Kelompok Usaha Tani, Kelompok Maju Jaya. Kelompok Mandiri Pangan  Kelompok Usaha Bersama sedangkan Bangka Selatan adalah Gapoktan Fajar Tani, Gapoktan Jaya Terus dan Kelompok . Kelompok Cipta Karya  dan 1 kelompok di Pangkalpinang 1 yaitu Sari Boga. Maraknya usaha penggemukan sapi tersebut tentu harus didukung dengen ketersediaan pakan yang berkualitas namun murah dan terjangkau bagi peternak. Peemerintah sendiri telah berupaya dan memberikan dukungan bagi penyediaan pakan untuk peternakan. Dukungan pakan pemerintah daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah dengan menfasilitasi peternak dengan pabrik bahan pakan diantaranya PT Putra Bangka Mandiri yang menghasilkan bahan pakan berupa bungkil inti sawit. Fasilitasi tersebut dengan pengajuan permohonan kuota Bungkil Inti Sawit bagi kelompok penerima Program KUR Sapi penggemukkan dengan jumlah 20,5 ton per bulan dengan harga Rp. 1450,- kg loko pabrik.  Bungkil Inti sawit salah satu bahan pakan lokal yang ada di Bangka Belitung.  Kandungan nutrisi pada bahan pakan tersebut berdasarkan hasil pengujian sampel di BPMPT Bekasi  berupa; Kandungan Air 9,17 persen, Abu 8,92 persen, Protein Kasar 21,4 persen, Lemak Kasar 10,89 persen, Serat Kasar 19,98 persen, Kalsium 1,76 persen, Phospor 0,55 persen dan TDN nya 68,38 persen. Bahan baku pakan lainnya yang cukup tersedia banyak diantaranya adalah solid, limbah ubi seperti daun ubi, onggok, kulit ubi.  Dengan formulasi pakan yang murah dan berkualitas serta tersedia sepanjang tahun diharapkan pertumbuhan dan pertambahan berat badan sapi Program KUR ini, dapat meningkat dan memberikan nilai jual serta keuntunggan yang tinggi. Dukungan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung lainnya adalah dengan melakukan pembinaan kepada peternak dannpengawasan mutu pakan yang diberikan untuk mengetahui kandungan dan kecukupan pakan yang diberikan. Jumlah sampel pakan yang sudah diambil sebanyak 23 sampel selanjutnya dikirim ke Laboratorium Pakan Dinas Peternakan Jawa Barat. Dukungan pemasaran juga dilakukan dengan membuat himbauan kepada Dinas/instansi/perusahaan  yang ada di Bangka Belitung untuk membeli hewan qurban kelompok KUR ini. Pengawasan yang dilakukan Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada tanggal 14 April 2021 di Bangka Selatan, dikatahui penjualan  program sapi KUR ini sudah terealisasi  8 ekor di kelompok Cipta Karya Bangka Selatan atau 100 persen dari sapi yang di terimanya dengan harga rata-rata penjualan Rp. 19.500.000 per ekor.  Sedangkan kelompok lain masih dalam proses pemeliharaan sambil melakukan promosi.*)

Gusva Yetti SPt MM Baca Selengkapnya