Artikel

Kumpulan artikel informatif seputar Pemerintahan, Pertanian dan Ketahanan Pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Gerbang Patas Solusi Atasi Pakan Ternak Saat El Nino
31 Mei 2023

Gerbang Patas Solusi Atasi Pakan Ternak Saat El Nino

Oleh: Ir Gusva Yetti SPt MM IPM (Pengawas Mutu Pakan Ahli Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)  BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi pada semester dua tahun 2023 akan terjadi El Nino yang melanda Indonesia, tidak terkecuali Bangka Belitung. El Nino adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Dampaknya dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia. Singkatnya, El Nino memicu terjadinya kondisi kekeringan atau kemarau  untuk wilayah Indonesia secara umum. Selanjutnya  dikutip dari  Hasil konfrensi pers Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan resmi yang dikeluarkan pada Selasa (7/3/2023 ) di artikel online PAN RB tanggal  8 Maret 2023 musim kemarau di Kepulauan Bangka Belitung, pada Juni 2023  dan puncaknya pada Agustus 2023. Salah satu yang terdampak langsung dari EL Nino ini adalah produksi tanaman termasuk hijauan pakan ternak yang merupakan pakan utama ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba) sehingga secara tidak langsung juga menyebabkan produksi dan produktivitas ternak tersebut terganggu. Dalam upaya mengantisipasi kekurangan hijauan pada musim kemarau tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah membagikan bibit hijauan pakan ternak sebanyak 100.000 stek pada 5 kelompok peternak yang terbalut dalam kegiatan Gerakan Penanaman Hijauan Berkualitas (GERBANG PATAS)  dalam rangka peningkatan produksi hijauan pakan ternak. Tahun 2023 ini sasaran lokasi di Kabupaten Bangka Tengah pada 5 Kelompok penerima, dengan jenis bibit rumput yang dibagikan adalah Pachong atau Rumput Gajah Thailand. Rumput Pakchong merupakan pupuk unggul atau berkualitas karena rumput ini dapat tumbuh dengan baik diberbagai lokasi, tetapi akan berkembang sangat baik pada tanah yang kaya akan bahan organik, mudah dikembang biakkan, produksi cukup tinggi (dapat mencapai 600 ton/ha//tahun), kandungan nutrisi cukup baik, batang, daun yang lembut serta tidak berbulu sehingga disukai oleh ternak dan umur tanam yang cukup panjang. Selain bibit rumput pachong juga akan dibagikan bibit legum Indigofera, yang merupakan legum sumber protein karena kandungan protein kasarnya dapat mencapai 33 persen sehingga tanaman ini sering disebut sebagai green consentrat. Selain itu tanaman ini bila sudah ditumbuh baik, dapat tahan dicuaca yang panas. Indigofera yang akan dibagikan pada kegiatan ini sebanyak 1.500 polibag. Untuk mengantisipasi kekurangan pakan pada sapi dapat dilakukan menciptakan Bank Pakan di kelompok,  melalui pengolahan pakan pada saat poduksinya tinggi seperti pengolahan menjadi fermentasi atau silase menjadi feed complete. Dengan pengolahan seperti ini, pakan dapat disimpan dan digunakan pada saat dibutuhkan. Selain mengantisipasi kekurangan pakan,  juga kualitas nutrisi pakan dapat dipertahankan, meningkatkan efisensi biaya biaya pakan dan biaya tenaga kerja sehingga ternak tetap sehat karena pakannya tersedia, berkualitas.*)

Ir. Gusva Yetti, SPt., MM, IPM Baca Selengkapnya
Pupuk Organik, Pengungkit Nilai Usaha Peternakan
27 Jan 2023

Pupuk Organik, Pengungkit Nilai Usaha Peternakan

Ir Gusva Yetti SPt MM IPM (Pengawas Mutu Pakan Ahli Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) PEMBANGUNAN sub sektor peternakan sebagai salah satu bagian dari pembangunan secara keseluruhan memberikan manfaat yang begitu besar bagi kehidupan masyarakat. Diantaranya pemenuhan konsumsi sehari-hari sebagai barang yang bernilai ekonomi, sosial dan budaya, meningkatkan pendapatan, memperluas lapangan kerja serta memberikan kesempatan berusaha bagi masyarakat di pedesaan dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Contohnya Nilai Tukar Petani (NTP) peternak yang terus mengalami kenaikan signifikan dari tahun ke tahun. Data yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Peternakan Tahun Anggaran  2022 menyebutkan bahwa tahun 2021 NTP peternak sebesar 106,73. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan tahun 2020 yang cuma 100,11. Bahkan angka itu jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan NTP tahun 2018 dan 2019 yang masing-masing sebesar sebesar 93,75 dan 94,98. Untuk diketahui NTP peternakan adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib) pada sektor peternakan yang dinyatakan dalam persentase. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendapatan peternak di Kepulauan Bangka Belitung naik lebih besar dari pengeluarannnya sehingga tingkat kesejahteraan mereka lebih baik dibandingkan sebelumnya. Nilai tambah subsektor peternakan yang tidak kalah penting adalah kotoran ternak/pupuk organik menjadi pupuk kandang/kompos. Pupuk organik dari kotoran ternak memiliki nilai ungkit yang cukup besar dalam menambah pendapatan pada usaha peternakan, sehingga dapat dikatakan menjadi emas hitam dalam usaha peternakan. Pupuk kandang sebagian banyak diperjual-belikan selain digunakan untuk mencukupi kebutuhan sendiri dalam usaha pertaniannya sehingga dapat menekan biaya operasional usaha pertaniannya dan sumber pendapatan tambahan selain produk utama  seperti daging, telur dan susu. Kelangkaan pupuk kimia di lapangan yang sempat meresahkan petani menjadi peluang pasar yang cukup terbuka bagi pupuk organik. Perkiraan produksi bahan kering dan nitrogen asal kotoran sapi per ekor (bobot hidup 250 kg setara dengan 1 ST) per 90 hari sebanyak 468 kg yang setara dengan 32 kg urea (Mathius, 2004). Informasi harga jual kotoran ternak cukup bervariasi dan bergantung pada campuran/komposisi pupuk kandang dan kandungan air pada pupuk tersebut. Pupuk kandang dengan kandungan air yang rendah bernilai lebih baik dari pada pupuk kandang yang mengandung air yang lebih banyak. Pada saat ini, kisaran harga jual pupuk kandang (padat) di lapang adalah Rp. 1.500, sementara harga pupuk cair asal urin memiliki nilai tukar setara dengan Rp. 1.000 per liter untuk yang belum diolah dan Rp. 10.000 untuk yang telah diolah. Lasmono, salah seorang peternak sapi di Desa Baskara Bakti Kab Bangka Tengah dengan populasi sapi lebih kurang 50 ekor dapat menghasilkan kompos rata - rata per bulan 9 ton/bulan  dengan harga Rp. 1.500 /kg, sehingga memberikan pendapatan Rp 13,5 juta per bulan. (Perhitungan jumlah feses, sisa hijauan yang dapat dipergunakan sebagai bahan kompos 1 satuan ternak sapi menghasilkan kompos 6,37 kilogram per ekor per hari dalam bentuk kering, Mathius, 2004) Hal yang sama pada ternak unggas khususnya ayam pedaging. Pada kapasitas ternak ayam sebesar 80.000 ekor akan dihasilkan kotoran sejumlah 3 ton kotoran basah per harinya (Anonim, 2012). Bila harga perkilo kotoran ayam tersebut Rp 500 maka nilai kotoran ayam tersebut perharinya Rp 1,5 juta per hari atau Rp 67 juta per periode (45 hari). Selain itu dengan pengolahan kotoran ternak menjadi kompos dapat mengurangi bau disekitar kandang dan dapat menjadi sumber penyakit. Bila tidak ada penanganan limbah kotoran yang berwawasan lingkungan secara terus-menerus dan dalam jumlah yang banyak dikhawatirkan akan terjadi kerugian secara ekonomi, kesehatan, dan gangguan lingkungan, Dari uraian diatas diketahui upaya pengembangan peternakan memberikan nilai ganda, yakni produk utama (daging) dan produk ikutannya (bahan organik). Keberadaan bahan organik dapat dijadikan bahan utama pembuatan pupuk organik, baik padat maupun cair yang sangat berguna bagi perbaikan tekstur dan struktur tanah sekaligus menyediakan unsur hara yang berguna bagi kehidupan tanaman sehingga juga dapat meningkatkan nilai usaha pertanian dan peternakan.*)

Ir Gusva Yetti SPt MM IPM Baca Selengkapnya
Kearifan Lokal Dalam Peningkatan Ketahanan Pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
2 Des 2022

Kearifan Lokal Dalam Peningkatan Ketahanan Pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Oleh : Hepa Lestari, SP (ASN Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan/Mahasiswa Magister Program Studi Magister Ilmu Pertanian Universitas Bangka Belitung) PANGAN merupakan kebutuhan dasar manusia dalam mempertahankan hidup. Kecukupan pangan menjadi hal yang harus diutamakan dalam pemenuhan pangan masyarakat Indonesia. Pemerintah saat ini sedang dituntut dalam pengembangan teknologi dalam mengatasi isu utama dunia yang salah satunya adalah krisis pangan.  Peningkatan produksi pangan lokal menjadi salah satu usaha yang dilakukan dalam mengurangi ketergantungan kepada produk impor seperti gandum.  Tanda-tanda krisis pangan di Indonesia saat ini ditandai dengan adanya perubahan iklim yang tidak menentu.  Intensitas hujan yang ekstrem dan bencana alam dapat menjadi salah satu faktor kegagalan dalam pengembangan pertanian. Faktor alam tersebut mengakibatkan petani gagal panen karena kebanjiran maupun kekeringan serta ledakan hama dan penyakit.  Permasalahan iklim yang saat ini terjadi di Indonesia akan menimbulkan penurunan produksi pangan.   Meningkatnya jumlah penduduk terus menerus tidak seimbang dengan kenaikan jumlah pangan.   Ketahanan pangan merupakan salah satu isu paling utama dalam pembangunan pertanian berkelanjutan.  Beras merupakan salah satu produk hasil pertanian yang sangat dibutuhkan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.  Ketersediaan beras sangat dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah penduduk yang menyebabkan terjadinya keadaan rawan pangan. Kepulauan Bangka Belitung sebagai provinsi kepulauan yang masih memenuhi kebutuhan beras sangat tergantung dari luar pulau.  Pemenuhan beras di Kepulauan Bangka Belitung yang berasal dari dalam daerah berkisar 30% dari kebutuhan.  Pengembangan padi di tanah Bangka Belitung sudah dilakukan masyarakat sejak zaman nenek moyang.  Kebiasaan para leluhur dalam menanam padi ladang untuk memenuhi kebutuhan beras telah lama dilakukan dikenal dengan istilah padi umeh. Masyarakat Bangka Belitung menganggap kegiatan padi umeh bukan hanya semata-mata bertanam padi hanya untuk mencapai hasil panen yang melimpah.  Kegiatan ini telah dianggap sebagai kegiatan dalam melestarikan adat.   Padi umeh banyak dikembangkan di kebun secara monokultur yaitu pada saat pembukaan lahan untuk areal perkebunan lada.  Selain itu, sering juga ditanam pada sela-sela tanaman perkebunan yang masih muda.  Padi umeh sebagai salah satu sumber daya genetik atau plasma nutfah yang dimiliki oleh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.  Tumbuhan sebagai plasma nutfah memiliki genetika terdiri dari unit-unit yang berfungsi membawa sifat keturunan.  Plasma nutfah memiliki nilai aktual maupun potensial dalam menciptakan rumpun baru.  Pemanfaatan plasma nutfah sangat dikaitkan dengan ketahanan pangan.    Penyebaran plasma nutfah padi di Pulau Bangka dan Belitung tersebar di beberapa kabupaten.  Aksesi adalah Individu atau populasi tanaman dengan karakteristik morfologis yang spesifik atau berasal dari wilayah/lokasi tertentu. Padi lokal Bangka menurut Mustikarini dkk (2019), terdapat 26 aksesi padi yang ditemukan di Pulau Bangka.  Aksesi-aksesi tertentu adalah Balok, Damel, Seluman, Ruten, Pulut Merah, Utan Antu, Raden, Puteh, Mayang Pandan, Mayang Pasir, mayang, Mayang Anget, Mayang Duku, Mayang Grintil, Mayang Nibung, Ruteh Puren, Balok Mas, Mayang N1, Mayang Cerak Madu, Grintil, Balok Runti, Balok Lutong, Mayang Curui, Mukud Besak, Payak Tebing, dan Balok Lukan Jintan. Padi Aksesi Raden dan Ruten ditemukan di Desa Sempan, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka.  Aksesi Mayang dan Cerak Madu ditemukan di Desa Lampur, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah.  Aksesi Mayang Nibung, Balok Mas ditemukan di Desa Telak, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat.  Padi lokal jenis lain yaitu Padi Tingkik ditemukan di Pulau Belitung.  Semua aksesi plasma nutfah yang berbeda atau satu aksesi dengan aksesi lainnya harus dapat dibedakan dalam kaitannya dengan komposisi genetik.  Kumpulan aksesi plasma nutfah yang ada dapat dijadikan sebagai koleksi aktif pemuliaan.  Plasma nutfah yang berupa keragaman tanaman perlu dilestarikan untuk dapat digunakan secara berkelanjutan. Koleksi plasma nutfah bertujuan untuk perlindungan gen unggul yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Koleksi plasma nutfah padi umeh yang dimiliki Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan sumber daya kekayaan genetik untuk perbaikan sifat-sifat tanaman yang diinginkan seperti daya hasil tinggi, tahan terhadap penyakit blas, umur genjah dan sifat-sifat baik lainnya.  Prospek budidaya padi umeh di Bangka Belitung sebenarnya sangat cocok dikembangkan karena pengembangan padi tersebut tidak tergantung pada irigasi.  Pengembangan padi umeh di Provinsi Kepulauan  Bangka Belitung sangat perlu dilakukan dalam pemenuhan ketersediaan beras. Pemenuhan kebutuhan beras dari dalam daerah saat ini telah banyak dikembangkan melalui pengembangan padi gogo.  Pengembangan padi gogo yang saat ini dilakukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung belum dapat meningkatkan produktivitas padi.  Benih yang berasal dari luar pulau bangka dan belitung ini memiliki ketahanan yang kurang terhadap serangan hama dan penyakit.  Blas merupakan penyakit utama pada padi Gogo yang hingga saat ini menjadi kendala dalam pengembangan varietas unggul. Kendala-kendala tersebut menyebabkan rendahnya hasil padi gogo yang hingga saat ini baru mencapai rata-rata 1,5 t GKG/ha. Dengan inovasi teknologi dan pengelolaan yang lebih baik, peluang peningkatan produktivitas padi di lahan kering cukup besar. Padi gogo memiliki potensi dalam mendukung peningkatan produksi padi nasional.  Pengembangan padi ladang di Bangka Belitung memberikan sumbangan produksi hasil padi sebanyak 26,05% dari total produksi padi yang ada.  Keberadaannya dapat menjadi solusi optimalisasi lahan kering sebagai pengganti lahan sawah.  Pengembangan padi gogo di lahan kering tentu perlu diikuti dengan penyediaan varietas unggul.  Penggunaan varietas unggul dapat menjadi teknologi paling murah dan efisiensi untuk meningkatkan produksi padi lahan kering.  Potensi sumber daya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk ekstensifikasi padi adalah lahan kering.  Dalam menghadapi krisis pangan yang akan terjadi perlu dilakukan berbagai upaya oleh pemerintah dan masyarakat.  Salah satu upaya pemerintah dalam menghadapi krisis pangan yaitu pengembangan varietas yang adatif.  Petani saat ini sangat mengandalkan air tanah sebagai sumber pengairan.  Perkembangan penduduk yang semakin bertambah akan menghabiskan sumber-sumber air.  Hal ini akan memunculkan kekeringan permanen di sejumlah daerah.  Pengembangan varietas-varietas tanaman yang adaptif terhadap perubahan iklim menjadi salah satu jalan keluar dalam pertahanan ketahanan pangan. Pemuliaan tanaman adalah rangkaian kegiatan untuk mempertahankan kemurnian jenis dan/atau varietas yang sudah ada atau menghasilkan jenis dan/atau varietas baru yang lebih baik.  Program pemuliaan yang melibatkan kerja sama antara pemulia, petani, pedagang, pengolah, konsumen dan pembuat kebijakan.  Padi yang dibudidayakan di Indonesia saat ini adalah hasil kerja pemulia tanaman di Indonesia.  Ada sekitar 150 varietas padi yang sudah di lepas dan hanya sedikit yang digunakan oleh petani di Indonesia.  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan suboptimal. Pengembangan padi di lahan suboptimal bertujuan untuk meningkatkan produktivitas petani di lahan tadah hujan, lahan kering, lahan rawa dan pasang surut.  Kendala yang ada pada lahan suboptimal terdapat pada kondisi fisik lahan, tata air maupun hama penyakit.  Pengembangan lahan yang kurang stabil tersebut perlu memperhatikan konservasi tanah dan air untuk menjaga kelestarian sistem produksi. Padi umeh atau ladang yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan jenis padi yang dapat dibudidayakan di lahan kering.  Lahan kering banyak didominasi oleh jenis tanah Podsolik Merah Kuning dengan kriteria kesuburan tanah rendah dan pH tanah rendah.  Daerah beriklim kering memiliki kesuburan lahan yang cukup baik tetapi kemungkinan defisiensi hara dan kurang air.  Kondisi lahan yang demikian menimbulkan masalah hama dengan dominasi yang berbeda setiap daerah. Padi adalah tanaman penting bagi masyarakat Indonesia.  Potensi varietas padi dapat ditingkatkan melalui program pemuliaan tanaman. Keterlibatan petani dan pemulia menawarkan cara pemecahan masalah produktivitas padi.  Pemuliaan padi dapat menciptakan kesesuaian tanaman dengan lingkungan target.  Pemuliaan padi diharapkan dapat mengenali preferensi pengguna, menentukan tujuan dan prioritas pemuliaan, menyediakan ketersediaan sumber daya genetik, efisiensi pemilihan galur, serta komersialisasi benih dari varietas terpilih di lahan petani. Pemuliaan padi lokal dapat menerapkan pemuliaan partisipatif.  Pemuliaan tanaman partisipatif terjadi sebagian besar di lahan petani dan keputusan kinerja dibuat bersama oleh petani dan pemulia. Dalam pemuliaan tanaman partisipatif fase pelaksanaan program terbalik dibandingkan proses konvensional karena didorong adopsi seleksi awal oleh petani dan pemenuhan kebutuhan benih dipicu permintaan pasar.  Keberhasilan dalam kegiatan pemuliaan sangat perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan kepada petani.  Kegiatan ini dilakukan dengan berbagai alasan mulai dari banyaknya varietas yang dilepas tidak diadopsi oleh petani, terdapat keragaman varietas lokal yang beradaptasi baik pada lingkungan spesifik dan terdapat keragaman lingkungan produksi yang tidak dapat dijangkau oleh program pemuliaan formal. Konsep pemuliaan partisipatif melibatkan sinergi petani dan pemulia dalam seleksi hasil pemuliaan tanaman, termasuk pemilihan kultivar yang akan dilepas, dan pengujian tahap lanjut. Pada konsep ini petani diberikan hampir yang hampir atau mendekati selesai untuk diuji di lahannya.  Partisipasi petani ini membutuhkan informasi terkait dimensi sosial, ekonomi dan budaya dalam proses pemilihan calon varietas baru. Keterbatasan sumber daya yang dimiliki lembaga penelitian sebagai materi pemuliaan tanaman, termasuk akses kondisi yang sebanding dengan lahan khusus petani, dicoba ditangani melalui pendekatan pemuliaan partisipatif agar mampu mengatasi beragam kebutuhan petani. Konsep pemuliaan ini memperhitungkan petani dalam persyaratan mutu dan kekhususan lokal terhadap target lingkungan potensial.  Kesadaran proses pemuliaan tanaman secara partisipatif baik individu maupun kelembagaan petani dapat mempengaruhi serangkaian jalur yang melibatkan aspek teknis, sosial, budaya dan beragam dinamika daerah pedesaan. Peningkatan keahlian dan keterampilan melalui kemitraan peneliti dan petani memiliki relevansi kuat untuk mengadaptasi. Pendekatan komprehensif dalam pelaksanaan pemuliaan partisipatif dapat memberikan peran preferensi lokal dan mendorong pemberdayaan potensi petani sebagai produsen. Ketersediaan varietas secara mandiri dan kebijakan pemerintah yang memadai merupakan faktor penting penentu keberhasilan swasembada pangan. Program pemuliaan tanaman partisipatif dengan pendekatan multi disiplin, penguatan jaringan kerjasama antar lembaga penelitian dan petani, sinergi pemangku kepentingan terutama dalam proses seleksi, pelepasan, sertifikasi benih, sistem logistik dan distribusi perlu terus diperkuat dengan perpaduan program pembangunan yang mendukung pengelolaan varietas berkelanjutan. Langkah adopsi menunjukkan bahwa varietas yang dihasilkan oleh pemuliaan partisipatif merupakan pengaruh positif dari perubahan penggunaan varietas di suatu wilayah. Introduksi dan adaptasi varietas memiliki peran penting mendukung pengembangan pertanian secara mikro di lahan budidaya petani dan secara makro pada skala produksi daerah dan nasional, yang akan bermuara pada terpeliharanya swasembada pangan nasional.*)

Hepa Lestari SP Baca Selengkapnya
Smart Farming System, Dukung Ketersediaan Pakan Ternak di Bangka Belitung
11 Nov 2022

Smart Farming System, Dukung Ketersediaan Pakan Ternak di Bangka Belitung

Ir. Muhammad Taufiq Alamsyah, S.Pt, M.Sc, IPP Pejabat Fungsional Pengawas Mutu Pakan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung                                                                                  DUNIA peternakan memang memiliki kaitan yang sangat erat dengan peradaban kehidupan umat manusia, terutama dalam aspek pemenuhan pangan sumber protein.  Bermula mulai dari aktivitas perburuan,  hingga saat ini dimana manusia mampu untuk mengembangkan sendiri hewan ternaknya baik secara ekstensif, ataupun intensif. Dari sisi ekonomi, bisnis peternakan juga sangat menjanjikan. Selain produksi daging sebagai produk utama untuk pemenuhan pangan sumber protein, hasil samping seperti kotoran untuk diolah menjadi kompos, juga ternyata memiliki nilai tambah yang cukup tinggi. Wajar saja jika saat ini bisnis peternakan banyak dilirik sebagai salah satu jenis usaha yang menjanjikan, salah satunya adalah ternak sapi.             Sebelum menekuni bisnis peternakan sapi, sebaiknya memahami dulu ilmunya. Ilmu beternak sapi ini sangat diperlukan untuk meminimalisir berbagai risiko yang mungkin terjadi saat beternak. Kurangnya ilmu dan wawasan bisa membuat usaha peternakan sapi tidak berjalan sesuai rencana atau setidaknya mempengaruhi efisiensi peternakan. Salah satu ilmu peternakan yang sedang trend saat ini adalah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi khususnya internet (Internet Of Things) atau lebih dikenal dengan smart farming. Pemanfaatan Internet of Thing (IoT) dalam smart farming adalah untuk menghubungkan komponen-komponen di sekitar kawasan peternakan dengan internet melalui smartphone maupun gadget lainnya. Salah satunya adalah untuk mendukung ketersediaan pakan ternak.             Pakan ternak merupakan faktor terpenting untuk perkembangan usaha peternakan sapi. Dalam perhitungan ekonomi, pakan menjadi titik pusat sebagai kebutuhan pokok konsumsi ternak harian. Faktor lingkungan dapat memengaruhi besarnya pengaruh pakan terhadap produksi, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan pakan tidak bisa dianggap ringan. Biaya pakan bisa mencapai 80% dari total biaya produksi. Agar efisien, penyediaannya dapat dipenuhi dengan pemanfaatan limbah agroindustri, limbah perkebunan, pertanian, holtikultura, dan limbah lainnya sehingga dapat  mewujudkan zero waste. Dengan menggunakan teknik smart farming, peternak dapat memantau dengan lebih baik kebutuhan masing-masing hewan dan menyesuaikan gizi mereka, sehingga mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan ternak. Dalam kaitan ini ketersediaan pakan di musim hujan dan musim kemarau harus tetap ada dengan kualitas dan kuantitas memadai. Sumber pakan bisa tunggal atau campuran, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diberikan pada hewan (ternak) untuk kelangsungan hidup, berproduksi, serta berkembangbiak. Pakan ternak ruminansia terdiri dari pakan hijauan dan pakan konsentrat (penguat). Kondisi di lapangan ketersediaan sumber pakan dari hijauan sering mengalami kendala akibat dari tidak terjaminnya kontinyuitas produksi hijauan dan zat anti nutrisi yang terkandung di dalam hijauan tersebut, sehingga berpengaruh terhadap stabilitas dari produksi. Penggunaan pakan asal biomasa lokal yang potensial sebagai pakan basal diharapkan dapat menurunkan biaya, namun juga mampu meningkatkan produktivitas sapi. Secara teknis, peternak dapat mengembangkan usaha sapi dengan pola integrasi tanaman ternak, berskala sedang   maupun besar, dengan pendekatan LEISA dan (zero waste), terutama di perkebunan. Integrasi ternak-tanaman merupakan model usaha tani yang menerapkan sinergi antara usaha tani dan ternak yang saling menguntungkan. Peternakan Berbasis Smart Farming System Di Bangka Belitung             Berkaitan dengan pembangunan peternakan sapi potong berbasis “Smart Farming System” di Bangka Belitung, hingga saat ini masih dalam proses yang tentunya masih jauh dari kata sempurna. Beberapa aspek penting dalam penerapannya antara lain dari aspek dukungan geografis wilayah, dan kualitas SDM Peternakan.             Dukungan geografis wilayah. Dari aspek ini, potensi wilayah Bangka Belitung sebenarnya sangat luarbiasa. Potensi perkebunan kelapa sawit yang mendominasi sektor perkebunan di Bangka Belitung, tentu membuka peluang untuk penerapan konsep Integrasi Sapi-Sawit.             Kualitas SDM peternakan. Pembangunan sumber daya manusia peternakan di Bangka Belitung masih terkendala dengan terbatasnya tingkat pendidikan peternak yang didominasi oleh lulusan SD dan SMP. Ditambah lagi dengan jumlah petani berusia lanjut >50 tahun yang mendominasi jumlah peternak, yang juga menjadi penyebab utama lambannya perkembangan peternakan berbasis teknologi yang menjadi kunci utama dalam “Smart Farming System”.             Harus diakui bahwa hingga saat ini perkembangan teknologi  “Smart Farming System” dalam mendukung produksi dan ketersediaan pakan ternak masih jauh dari kata cukup. Masih butuh usaha yang lebih keras dari semua pihak, terutama dalam mewujudkan suatu “platform” khusus untuk menghubungkan antara ketersediaan pakan yang ada dengan kebutuhan ternak. Jika hal ini bisa terwujud, maka bukan tidak mungkin, swasembada pakan ternak di Bangka Belitung bisa segera terwujud.*)

Ir. Muhammad Taufiq Alamsyah, S.Pt, M.Sc, IPP Baca Selengkapnya
Pentingnya Nomor Kontrol Veteriner Sebagai Jaminan Pangan Aman, Sehat, Utuh dan Halal
7 Nov 2022

Pentingnya Nomor Kontrol Veteriner Sebagai Jaminan Pangan Aman, Sehat, Utuh dan Halal

Oleh : drh. Ahmad Nurhakim, M.Si (Medik Veteriner Muda pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus Kepala Bidang Humas, Promosi dan Advokasi Profesi Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) APA itu Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV)?  Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) yang selanjutnya disebut Nomor Kontrol Veteriner adalah sertifikat sebagai bukti tertulis yang sah telah dipenuhinya persyaratan higiene dan sanitasi sebagai jaminan keamanan produk hewan pada unit usaha produk hewan. Sehingga produk hewan pada  unit usaha produk hewan yang memiliki NKV tersebut dijamin keamanan produk hewannya oleh Pejabat Ototritas Veteriner (POV) Provinsi. Setiap unit usaha produk hewan WAJIB mengajukan permohonan untuk memperoleh NKV ke Dinas Kabupaten / Kota yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan. Unit usaha produk hewan yang telah memenuhi persyaratan Higiene dan Sanitasi dengan menerapkan cara yang baik pada rantai produksi produk hewan secara terus menerus diberikan NKV. Sehingga semua unit usaha produk hewan WAJIB memiliki Nomor Kontrol Veteriner sebagai bentuk tanggung jawab dalam penyediaan pangan asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Pemerintah bertanggung jawab dalam sertifikasi NKV sebagai bentuk jaminan keamanan produk hewan yang beredar di masyarakat. Sehingga perlu kerja sama yang baik antara Pemerintah dan pelaku usaha dalam penyediaan pangan asal hewan yang ASUH bagi masyarakat. Pelaku usaha juga didorong untuk mengajukan permohonan untuk memperoleh NKV karena proses penerbitan NKV tidak dipungut biaya sama sekali oleh Provinsi. Jenis Usaha yang wajib NKV diantaranya Rumah Potong Hewan (Ruminansia, Babi dan Unggas), budi daya unggas petelur, budi daya ternak perah,  usaha pengolahan (daging, susu, telur), ritel, kios daging, gudang berpendingin, gudang kering, usaha penampungan susu, usaha pengumpulan, pengemasan dan pelabelan telur konsumsi, usaha penanganan dan pengolahan madu, usaha pencucian dan pengolahan sarang burung walet, usaha pengolahan produk pangan asal hewan dan usaha pengolahan produk hewan non pangan. Tujuan sertifikasi NKV adalah untuk mewujudkan pangan asal hewan yang ASUH dan sebagai penjamin keamanan produk hewan yang beredar, serta untuk meningkatkan daya saing produk hewan. Sanksi membayangi bagi para pelaku usaha yang tidak memenuhi persyaratan teknis selama 5 tahun. Sanksi administrasi berupa peringatan tertulis dan/atau penghentian sementara kegiatan produksi untuk unit usaha yang tidak mengajukan permohonan sertifikasi NKV. Masyarakat harus cerdas memilih unit usaha yang ber-NKV demi mendapatkan pangan yang terjamin ASUH. Harapannya setiap unit usaha yang bergerak di bidang produk hewan (daging, telur dan susu) maupun olahan produk hewan, sebaiknya ber NKV untuk menjamin higiene sanitasi produk hewan/olahan produk hewan sesuai dengan peraturan yang berlaku sehingga pangan asal hewan yang beredar dan akan dikonsumsi oleh masyarakat luas khususnya di Provinsi Bangka Belitung aman dikonsumsi.*)

drh. Ahmad Nurhakim, M.Si Baca Selengkapnya
Peran Kesmavet dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan
13 Okt 2022

Peran Kesmavet dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan

Oleh : drh. Ahmad Nurhakim, M.Si Medik Veteriner Muda pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus Kepala Bidang Humas, Promosi dan Advokasi Profesi Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung PANGAN merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Sehingga ketersediaan pangan menjadi kunci untuk mencapai ketahanan pangan. Pemerintah selalu berupaya untuk mewujudkan ketahanan pangan, salah satunya dengan penyediaan protein hewani asal ternak. Protein hewani asal ternak diperoleh dari daging, telur, dan susu serta hasil olahannya. Namun penyediaan protein hewani asal ternak memiliki potensi bahaya yang mengancam kesehatan hewan, manusia dan lingkungan bila tidak terjamin keamanannya. Sehingga keamanan pangan terutama Pangan Asal Hewan (PAH) harus menjadi perhatian. Bahan pangan asal hewan termasuk dalam kategori perishable food (mudah rusak) karena mudah tercemar bahaya fisik, kimia, dan biologi dan potentially hazardous food (memiliki potensi berbahaya) karena kandungan gizi didalam PAH yang sangat lengkap juga dapat mendukung pertumbuhan mikrobiologi. Mengingat bahan pangan asal hewan termasuk kategori perishable food dan potentially hazardous food maka diperlukan penanganan yang benar dan tepat. Dalam konsep keamanan pangan asal hewan dikenal dengan istilah safe from farm to table. Upaya ini dilakukan dalam menjamin keamanan pangan asal hewan mulai dari asal hewan (produksi/farm) sampai siap dikonsumsi. Beberapa potensi bahaya yang dapat berasal dari pangan asal hewan diantaranya adalah agen infeksius penyebab foodborne disease atau penyakit yang ditularkan lewat makanan yang terkontaminasi oleh bakteri, virus, parasit dan prion, dimana bakteri menjadi penyebab terbesar kasus foodborne disease yaitu sebesar 75%. Setiap hari jutaan orang sakit dan ribuan orang meninggal akibat foodborne disease (WHO). Sementara biaya yang dikeluarkan untuk menangani kasus foodborne disease tidak sedikit. Sebagai contoh akibat salmonellosis maka Amerika harus menyiapkan dana sebesar US$ 2,5 miliar lebih tiap tahunnya. Tugas dan fungsi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet)  secara garis besar adalah menjamin keamanan dan kualitas produk hewan serta mencegah terjadinya resiko bahaya akibat penyakit hewan dalam rangka menjamin kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Beberapa upaya yang telah dilakukan untuk menjamin keamanan pangan diantaranya adalah pengujian formalin, pengujian boraks, pemeriksaan awal pembusukan, pengujian Malachite Green, dan uji Total Plate Count (TPC). Tantangan Besar Kesmavet di Bangka Belitung saat ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mendapatkan daging yang  ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal), advokasi anggaran untuk penjaminan daging yang ASUH dalam rangka penyediaan protein asal ternak untuk masyarakat, mencegah kejadian foodborne disease dan penyakit zoonosis serta kejadian resistensi antimikroba. Salah satu parameter kemajuan suatu negara tidak saja dinilai dari kemampuannya menyediakan kebutuhan pangannya (ketahanan pangan). Tetapi, juga jaminan keamanan pangan (food safety) yang dikonsumsi oleh masyarakatnya. Negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa menjadikan keamanan pangan sebagai salah satu standar bagi kemapanan taraf hidup masyarakatnya. Jaminan keamanan pangan merupakan hak setiap warga Negara. Begitu juga memperoleh/mengkonsumsi pangan yang aman merupakan hak bagi setiap warga negara Indonesia dan hal ini sudah diatur dalam UUD 1945 dan beberapa peraturan lainnya di antaranya UU Perlindungan Konsumen.*)  

drh. Ahmad Nurhakim, M.Si Baca Selengkapnya