BANGKA BARAT—Kegiatan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) untuk padi sawah di Desa Tuik Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat resmi berakhir, Kamis (13/2/2020) siang. Kegiatan yang difasilitasi oleh Balai Proteksi Tanaman Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui dana APBN Tahun 2019 itu merupakan salah satu sistem pengendalian hama dan penyakit yang menggunakan pendekatan ekologi. .
Wakil Gubernur (Wagub) Kepulauan Bangka Belitung Drs H Abdul Fatah MSi turut hadir pada penutupan kegiatan tersebut. Ikut mendampingi Wagub, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli SP MP, Kepala Balai Proteksi Tanaman Ujang Djohan SP, Kepala Bidang PSP dan Penyuluhan Asdianto SP MT, Kepala Seksi Pelayanan Teknis Balai Proteksi Tanaman Sugiansyah SP, Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) pada Balai Proteksi Tanaman Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Hendra Kusnadi SP dan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Barat Ervina Vivianila SPi MEng.
Koordinator POPT pada Balai Proteksi Tanaman Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Hendra Kusnadi SP mengatakan kegiatan PPHT yang dilaksanakan di Desa Tuik tersebut didanai oleh APBN Tahun 2019 seluas 25 hektar yang dikelola oleh petani yang tergabung dalam Gapoktan Pakat.
“Dua puluh lima hektar itu dikelola oleh dua lima orang. Jadi satu orang mendapatkan satu hektar. Untuk tahun 2019 Bangka Belitung memang cuma mendapatkan alokasi untuk satu lokasi saja. Tapi untuk tahun 2020 pemerintah pusat mengalokasikan untuk dua lokasi. Tapi lokasinya nanti tidak lagi di sini. Untuk kelanjutan kegiatan di Desa Tuik ini nanti kami akan ikutkan pada kegiatan PPAH atau Pos Pelayanan Agen Hayati,” kata Hendra.
Menurut Hendra PPHT merupakan salah satu cara pengendalian OPT melalui pendekatan ekologi yang bersifat multi disiplin untuk mengelola populasi hama dan penyakit. Dengan menerapkan berbagai teknik pengendalian yang kompatibel, tutur Hendra kerusakan tanaman dan timbulnya kerugian secara ekonomis dapat dicegah termasuk kerusakan lingkungan dan ekosistem.
“Intinya kita ingin meningkatkan keterampilan petani melalui PPHT maka semuanya bersifat organik dan beras yang dihasilkan pun merupakan beras organik. Varietas yang ditanam semuanya varietas lokal, seperti Mayang Wangi, Mayang Pasir, Balok dan Utan Antu. Karena itu padi yang produksi oleh petani melalui kegiatan PPHT ini Insya Allah bebas pestisida,” tutur Hendra seraya menambahkan bahwa padi yang diproduksi melalui kegiatan PPHT juga ikut meningkat.
“Biasanya produksi cuma sekitar satu hingga satu koma dua ton per hektar tapi setelah diterapkan PHT meningkat menjadi 1,5 hingga dua ton per hektar,” tambah Hendra didampingi POPT Ahli Muda Zali SP dan Petugas POPT Desa Tuik Rasfi Idham.
Pernyataan Hendra Kusnadi kemudian dibenarkan oleh Ketua Gapoktan Pakat Desa Tuik, Iin Parlian yang mengaku ada peningkatan produksi padi melalui PPHT yang mereka terapkan.
“Karena itu kami ingin program ini tetap ada di Desa Tuik bahkan kalau bisa ditambah lagi luasnya karena bagi kami manfaatnya sangat besar,” kata IIn.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli SP MP memberikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan kegiatan PPHT di Desa Tuik Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat yang difasilitasi oleh Balai Proteksi Tanaman Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut.
“Ini (PPHT di Desa Tuik-red) sebagai contoh bahwa kalau kita terapkan PHT dengan baik maka produksi bagus serta hama dan penyakit bisa terkendali. Nah, kalau nanti mengarahnya ke organik maka ayo kita kerjakan yang organik,” kata Juaidi.
Sementara itu Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Drs H Abdul Fatah MSi mendorong para petani sawah di Desa Tuik untuk terus memanfaatkan lahan areal persawahan semaksimal mungkin.
“Cetak sawah di sini tahun 2006 dan selesai tahun 2008 kemudian selama perjalanan panjang itu yang ditanam hanya padi saja dan setelah itu (lahannya) nganggur, itu tidak boleh. Alam sudah menyediakan (banyak potensi) kepada kita. Bagaimana caranya, kalau panen padi selesai maka tanam lagi misalnya dengan jagung,” kata Wagub.*)