HARI belum terlalu siang. Matahari pun baru beranjak tinggi. Namun sengatannya mulai terasa menusuk kulit. Kendati demikian suasana di areal persawahan Desa Tuik Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat hari itu Kamis (13/2/2020) tidak terlalu panas. Sepertinya beberapa gumpalan awan hitam yang menggantung di atas persawahan menjadi penghalang sinar mentari menembus bumi hingga membuat suasana persawahan menjadi sedikit teduh.

Sementara itu ada suara riuh terdengar. Obrolan sejumlah orang yang sesekali diselingi tawa sayup-sayup sampai ke telinga. Namun tak tampak yang terlihat dan di areal persawahan seperti tak ada aktifitas. Hanya sesekali terlihat kendaraan bermotor melintasi jalan usaha tani yang telah beraspal membelah areal persawahan.  

“Terus lagi Bro, Lokasi acaranya di tengah-tengah persawahan,” kata Rasfi Idham SP, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Desa Tuik memecah keheningan. Pria yang akrab disapa Aam itu seakan tahu isi pikiran Erhan, sang sopir yang membawa kendaraan kami dari Pangkalpinang menuju areal persawahan Desa Tuik siang itu.

Aam benar. Setelah melewati dua tikungan yang tak terlalu tajam, terlihat sebuah tenda biru berdiri kokoh di pinggiran sawah. Ada banyak petani di bawah tenda yang didirikan bersebelahan dengan sebuah pondok papan tersebut.

“Waalaikumsalam,” jawab mereka serempak menjawab panggilan salam yang diucapkan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli SP MP sesaat setelah kami turun dari kendaraan.

Siang itu Juaidi yang didampingi Kepala UPTD Balai Proteksi Tanaman Ujang Djohan SP, Kepala Seksi Kepala Seksi Pelayanan Teknis Balai Proteksi Tanaman Sugiansyah SP, Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) pada Balai Proteksi Tanaman Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Hendra Kusnadi SP dan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Barat Ervina Vivianila SPi MEng sengaja datang ke areal persawahan Desa Tuik untuk menghadiri penutupan Kegiatan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) bersama Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Drs H Abdul Fatah MSi.

“Kalau sudah berada di tengah sawah seperti ini rasanya seperti lupa untuk pulang,” kata Kepala Dinas Pertanian Juaidi Rusli SP MP ketika memberikan sambutan di hadapan para petani.

Hal senada diungkapkan Wakil Gubernur (Wagub) Kepulauan Bangka Belitung Drs H Abdul Fatah MSi yang mengaku sangat senang berada di tengah areal persawahan Desa Tuik tersebut.

“Alhamdulillah pada saat ini kita bisa bersama-sama berada di tengah sawah Desa Tuik. Ini satu hal yang sangat indah bagi saya karena suasananya sangat alami yang tidak dibuat-buat tapi apa adanya,” kata Wagub

Tuik merupakan salah satu desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat. Berjarak sekitat 64 kilometer dari Kota Pangkalpinang, hanya butuh waktu enam puluh menit untuk tiba di desa yang berpenduduk sekitar 700 jiwa ini. Sebelum menjadi desa definitive, Tuik merupakan salah satu dusun dan menjadi bagian dari Desa Pusuk. Tak lama setelah orde reformasi digulirkan di tanah air, masyarakat desa setempat kemudian menginginkan berdiri sendiri dan memisahkan diri dari Desa Pusuk hingga sekarang. Setelah menjadi desa definitive berbagai program pemerintah kemudian mengalir ke Desa Tuik termasuk sektor pertanian dan areal persawahan merupakan salah satu contohnya.

“Alhamdulillah sejak adanya sawah, masyarakat Tuik tak lagi membeli beras bahkan produksi padi kami sudah surplus dan kami jual ke daerah lain,” kata Parhandi Kusumah salah seorang Pengurus Gapoktan Pakat Desa Tuik.

Menurut Parhan lahan sawah di Desa Tuik dicetak pertama kali Tahun 2006 lalu dan saat ini luas lahan sawah yang membentang di desa tersebut mencapai 325 hektar dengan produksi ratusan ton per tahun.

“Produksi gabah kering giling sekitar 300 ton hingga 350 ton per tahun. Sementara kebutuhan kami tidak sebanyak itu karena jumlah penduduk Desa Tuik hanya sekitar 700 jiwa sehingga kalau untuk beras kami sudah surplus,” ujar Parhan seraya menambahkan pihak Gapoktan Pakat bekerjasama dengan Koperasi Pertanian Perintis Desa Tuik untuk memasarkan beras tersebut.

Sementara itu Koordinator POPT pada Balai Proteksi Tanaman Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Hendra Kusnadi mengatakan kegiatan usaha tani padi sawah di Desa Tuik masih kental dengan kearifan lokal. Penanggung jawab kegiatan PPHT di Desa Tuik itu kemudian menceritakan bagaimana cara petani setempat melakukan budidaya tanaman padi.

“Benih yang mereka tanam merupakan varietas lokal dan mereka memang tidak mau menggunakan benih lain termasuk benih yang sudah dilepas pemerintah. Belum lagi pemeliharaan tanaman yang mereka lakukan juga menggunakan bahan organik. Jadi petani di sini masih memelihara dan menjaga kearifan lokal. Bahkan saya dapat katakan bahwa jika kita ingin melihat budaya dan karakter lokal masyarakat Bangka Barat itu, ya aslinya ada di Desa Tuik ini,” kata Hendra.  

Hendra berharap kearifan lokal yang masih melekat pada petani Desa Tuik dapat terus terjaga dan tidak luntur di kemudian hari.

“Karena semua yang lokal tersedia di desa ini, tidak cuma padi, durian juga misalnya, banyak yang lokal dan bagus-bagus di sini, buah salak, belum lagi madu kelulutnya,” ujar Hendra seraya menambahkan bahwa pihaknya akan terus berusaha mengajak masyarakat setempat untuk terus menjaga kearifan lokal dimaksud.

“Karena itu setelah kegiatan PPHT ini nanti selesai, kami akan jadikan Desa Tuik ini sebagai salah satu Pos Pelayanan Agen Hayati (PPAH) dalam rangka menjaga kearifan lokal yang selama ini terpelihara dengan baik,” tandas Hendra.*)