PANGKALPINANG—Sebanyak 359 ekor sapi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dinyatakan sembuh dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Edi Romdhoni SP MM mengatakan tingginya angka kesembuhan hewan ternak tersebut hasil kerja keras berbagai pihak di lapangan sehingga sapi yang positif PMK dapat disembuhkan.
“Sudah sembuh 40,2 persen,” kata Edi saat memberikan laporan kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) pada Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Wabah PMK bersama para kepala dinas yang menangani peternakan dan kesehatan hewan dari seluruh provinsi di Indonesia yang digelar secara daring, Senin (16/05/2022).
Ikut hadir Sekretaris Jenderal Kementan Dr Ir Kasdi Subagyono MSc, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dr Ir Nasrullah MSc dan Kepala Bidang PKH Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Drh Judnaidy.
Sebelumnya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menyebutkan ada 15.064 ekor dari 16.940 ekor populasi sapi di Kepulauan Bangka Belitung yang beresiko terkena PMK. Dari jumlah tersebut 1.236 telah tertular dan 359 diantaranya dapat disembuhkan.
“(Kemudian sebanyak) 531 ekor atau 59 persen menuju sembuh. (Sedangkan) yang dipotong paksa ada 4 ekor atau 0,67 persen,” jelas Edi.
Edi optimis penyebaran PMK dapat ditanggulangi. Karena itu menurutnya Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung belum mengusulkan penetapan status wabah PMK untuk provinsi ini kepada Mentan SYL.
“Kami sangat yakin kerja keras kawan-kawan di lapangan sudah berhasil untuk meningkatkan kasus ini menjadi sembuh dan recovery,” tegasnya seraya minta Kementan untuk terus mengirimkan obat-obatan dan vitamin untuk mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut ke depan.
“Kami sangat terbatas untuk obat dan mungkin nanti (obat yang dikirim Kementan) bisa menjadi prioritas terutama untuk daerah-daerah yang memang sudah tertular,” tambah Edi.
Menanggapi permintaan tersebut Mentan SYL memerintahkan Dirjen PKH untuk segera mendistribusikan bantuan obat-obatan ke daerah-daerah yang tertular PMK.
“Obat-obatannya maksimalkan Pak Dirjen,” perintah Mentan.
Namun untuk mempercepat penanganan PMK Mentan SYL juga minta pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran APBD dalam penyediaan obat-obatan.
“Saya sudah melakukan pembicaraan dengan Mendagri, jadi jangan ragu gunakan dana daerah sepanjang jangan korupsi. Kalau untuk obat-obatan tidak banyak itu, pakai saja dana daerah dari pada kita nunggu (kiriman obat dari pusat),” kata Mentan SYL.
Sementara itu Dirjen PKH Dr Ir Nasrullah MSc mengatakan bantuan obat-obatan akan terus dikirim secara bertahap ke seluruh daerah yang tertular PMK. Menurutnya obat-obatan tahap pertama telah didistribusikan ke enam provinsi termasuk ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
“Tahap satu tanggal 7 – 12 Mei 2022 untuk tujuh provinsi, mulai dari Jawa Timur, Bangka Belitung, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Aceh Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Barat. Total logisitik yang telah dikirim Rp 365.240.000. Tahap dua dikirim hari ini (Senin 16 Mei 2022-red),” kata Nasrullah.*