KEBERHASILAN pembangunan subsektor peternakan tidak cuma berupa ketersediaan daging, telur dan susu sebagai sumber protein. Lebih dari itu, efek lain dari usaha peternakan dapat berupa ketersediaan pupuk organik, sumber pendapatan, penyedia lapangan kerja bahkan status sosial seseorang. Bahkan produk peternakan khususnya daging dapat mempengaruhi inflasi suatu daerah.

Dalam usaha peternakan, faktor pakan menjadi salah satu indikator utama keberhasilan usaha. Dengan biaya pakan yang tinggi hingga mencapai enam puluh hingga tujuh puluh persen dari total biaya produksi, mengakibatkan keberhasilan usaha menjadi semakin kecil. Karena itu kelompok usaha yang mampu menyediakan pakan secara mandiri tentu akan lebih berhasil dalam usaha peternakan.

Kelompok Tani Makmur yang beralamat di Desa Sekar Biru Kecamatan Parit Tiga Kabupaten Bangka Barat sukses menerapkan hal tersebut. Sejak tahun 2016 kelompok usaha peternakan yang diketuai Rahmat Kadarta itu telah memproduksi pakan sendiri dengan memanfaatkan sumber pakan lokal dengan biaya pakan yang cukup murah dan tersedia dalam jumlah yang cukup banyak.

“Kami mandiri di pakan. Kami ada sapi dan kambing yang pakannya dari pelepah sawit. Kemudian kami ada ayam dan kami bikin sendiri pakannya. Selanjutnya kami ada ikan kami juga bikin sendiri peletnya. Jadi kami tidak tergantung dengan pakan dari pabrik,” kata Ketua Kelompok Tani Makmur Rahmat Kadarta.

Atas keberhasilan dan kesuksesannya dalam kemandirian pakan ternak tersebut,  Kelompok Tani Makmur mendapat apresiasi dari pemerintah. Apresiasi pemerintah itu disampaikan melalui Bank Indonesia (BI) pada acara BI Award tanggal 28 November 2019 yang lalu. Kelompok Tani Makmur dinobatkan sebagai kelompok terbaik se nusantara untuk Klaster Terbaik Pendukung Ketahanan Pangan dalam Rangka Pengendalian Inflasi Kategori Peternakan/Perikanan yang diserahkan langsung oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyodi di Jakarta. Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Dr H Erzaldi Rosman SE MM serta TIM BI Perwakilan Kepulauan Bangka Belitung ikut hadir dan mendampingi Ketua Kelompok Tani Makmur Rahmat Kadarta saat menerima penghargaan tersebut.

“Kelompok Tani Makmur ini terbentuk pada tahun 2014 dengan anggota 3 orang. Sekarang jumlah anggota kami sudah menjadi 13 orang dan kita dibina oleh BI sejak tahun 2018. Penghargaan langsung serahkan oleh Gubernur BI di hadapan Bapak Presiden Joko Widodo. Kami dapat tropi plus bonus 50 juta rupiah dan kami juga diundang makan malam oleh Bapak Presiden,” ujar Rahmat tanpa bermaksud membanggakan diri.

Selain pakan, Kelompok Tani Makmur juga telah mampu menggelola dan memproduksi probiotik MA 11 di Laboratoium mininya yang merupakan fasilitas bantuan dari Bank Indonesia. Selain pakan sapi dengan probiotik MA 11 tersebut Kelompok Tani Makmur dapat membuat dan menggunakan pakan untuk ayam buras, kambing dan ikan dengan menggunakan sumber bahan lokal.

Dengan memanfaatkan menngolah bahan baku lokal lainnya, Kelompok Tani Makmur juga dapat memproduksi pupuk organik N, P dan K organik yang sudah diaplikasikan ke masyarakat sekitar. Sedangkan limbah sapi (urine dan kotorannya) telah diolah menjadi pupuk organik padat dan cair.

Terkait beberapa kriteria penilaian sehingga Kelompok Tani Makmur terpilih menjadi yang terbaik, menurut Rahmat Kadarta banyak hal yang dinilai tim juri.

“Yang pertama kami mampu mengelola lahan bekas tambang menjadi hijau. Yang kedua kami mampu mengelola limbah menjadi berkah. Limbah sawit jadi pakan. Limbah ternak menjadi pupuk berkualitas limbah ampas tahu, limbah kacang kedelai kita jadikan konsentrat untuk sapi. Yang membuat nilai kami tinggi saat penilaian kemarin karena kami juga sudah diminta oleh provinsi lain untuk menjadi narasumber.,” jelas Rahmad seraya menambahkan saat ini pihaknya juga turut membantu sejumlah sekolah mengelola limbah di sekitar lembaga pendidikan tersebut.

“Mereka kita ajarkan kelola limbah sehingga pekarangan sekolah bebas dari limbah. Hasilnya SDN 3 Parit Tiga mendapat penghargaan sebagai sekolah Adiwiyata se Kabupaten Bangkla Barat. Saat ini kita juga sedang menyiapkan SMAN 1 Jebus untuk berangkat ke tingkat nasional juga untuk Adiwiyata,” tandas Rahmat.

Lebih kurang  13 ribu ekor sapi setiap tahunnya didatangkan ke Kepulauan Bangka Belitung untuk dipotong maupun pemenuhan bibit. Populasi yang baru mencapai 13.760 ekor pada tahun 2018 belum dapat memenuhi kebutuhan lokal. Kondisi ini menyebabkan harga daging yang cukup tinggi dan beresiko terjadinya inflasi.

Sumber pakan lokal berupa bungkil kelapa sawit, onggok kering, dedak, jagung, pelepah kelapa sawit, kulit kacang kedele yang semuanya dijadikan pakan komplit dalam bentuk fermentasi menggunakan probiotik Ma 11. Pakan yang dihasilkan baik dalam bentuk konsentrat maupun hijauan olahan (silase).

Berdasarkan hasil pengujian sampel konsentrat dan silase di BPMPT (Balai Pengujian Mutu  dan Sertifikasi Pakan) Bekasi, diketahui kandungan nutrisi konsentrat Kelompok Tani Makmur mengandung Protein Kasar 16,18%, Lemak Kasar 0,49%, Serat Kasar 17,50%, Kalsium 0,17%, Phosphor 0,46% dan TDN 64,54%. Sedangkan Silase Pelapah Kelapa Sawit mengandung Protein Kasar 12,43%, Lemak Kasar 2,18%,, serta Kasar 35,05% Kalsium, 0,42%, Phospor 0,25% TDN 60,69

Untuk diketahaui pada tahun 2018 yang lalu, Kelompok Tani Makmur juga mendapat Juara Pertama tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada lomba kelompok peternak. Kini Kelompok Tani Makmur juga menjadi salah satu Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan (P4S) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.*)