SUNGAILIAT--Institut Pertanian Bogor (IPB) mendorong para petani pemilik kebun kelapa sawit di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendirikan pabrik pengolahan kelapa sawit sendiri. Kepemilikan pabrik tersebut sangat mungkin dilakukan mengingat jumlah kebun sawit yang dimiliki petani di provinsi ini sangat luas.

Demikian disampaikan Kepala Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) IPB, Prof Dr Ir Yandra Arkeman MEng dalam Workshop Hilirisasi Produk Kelapa Sawit untuk Mendukung Daya Saing UKM/Koperasi/Gapoktan Kelapa Sawit Bagi Koperasi Sawit pertengahan November 2019 lalu.

“Jika memungkinkan petani secara bersama-sama memiliki pabrik pengolahan sampai ke hilir. Namun untuk sementara dapat dimulai dengan melakukan pengolahan sederhana,” kata Yandra Arkeman.

Workshop yang digelar di Sungailiat - Bangka dan disponsori Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPD PKS) tersebut dilaksanakan selama lima hari sejak tanggal 15 hingga 19 November 2019. Sebanyak 40 orang wakil dari 20 koperasi dan gabungan kelompok tani (gapoktan) petani kelapa sawit menjadi peserta workshop yang dibuka Kepala Dinas Pertanian Propinsi Bangka Belitung, Juaidi Rusli SP MP tersebut.

“Melalui hilirisasi dapat dihasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi dan pemasarannya dapat dilakukan dengan lebih mudah. Pada kenyataan di lapangan, walaupun harga bahan bakunya fluktuatif, harga produk hilirnya cenderung stabil,” ujar Yandra seraya meminta petani sawit untuk tidak menggunakan benih sawit yang asal-asalan.

“Pada era globalisasi, selain keberadaan kawasan dan korporasi, petani juga harus memanfaatkan teknologi mulai dari teknologi budidaya sampai dengan teknologi pengolahan. Untuk meningkatkan produktivitas kebun, petani harus dibimbing menerapkan good agriculture practice (GAP) seperti yang diterapkan perusahaan besar. Di masa lalu bibit yang digunakan tidak jelas asalnya dan pemeliharaan tanamannya dilakukan seadanya. Rendahnya produktivitas diperparah dengan harga penjualan yang juga rendah akibat mutu yang kurang baik,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Ketua Pelaksana Workshop Dr Ir Mimin Aminah, MM. Menurutnya dengan luasan kebun sawit yang luar biasa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sangat memungkinkan petani untuk memiliki pabrik pengolahan sendiri.

“Pabrik pengolahan dimulai dengan mengolah buah brondolan dan buah yang ditolak (reject) oleh pabrik kelapa sawit perusahaan. Karena itu pabrik pengolah sawit harus memberi ketegasan buah sawit mana yang diafkir sehingga bisa  dibawa kembali oleh petani untuk diolah sendiri bukan dengan cara memotong harga tetapi tidak jelas buah sawit mana yang dianggap tidak memenuhi syarat,” kata Mimin

Mimin berharap melalui program hilirisasi produk sawit oleh koperasi/gapoktan nanti, pendapatan petani sawit dapat meningkat.

“Pendapatan petani sawit cenderung stagnant bahkan cenderung menurun. Hal ini karena dengan luas kebun sawit yang tidak berubah. Secara perlahan akan diwariskan kepada anak-anaknya. Apabila sebelumnya memiliki dua hektar maka luas kepemilikannya akan terus berkurang. Apabila anaknya dua maka luas pemilikannya hanya satu hektar per keluarga. Apabila anaknya empat maka setiap keluarga hanya memiliki 0,5 hektar. Oleh karena itu, pengolahan buah milik petani (koperasi/gapoktan) adalah pilihan terbaik,” ujar Mimin.

Dukungan serupa juga disampaikan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli. Menurutnya dengan memiliki pabrik pengolahan sendiri maka dapat dipastikan pendapatan petani akan meningkat;

“Apabila petani dapat mengolah buah sawitnya sendiri diharapkan akan mendapatkan tambahan pendapatan. Apabila pengolahan buah sawit hanya ditujukan untuk buah brondolan dan buah afkiran yang ditolak pabrik, pemasarannya pun mudah. Perusahaan Listrik Negara (PLN) merupakan salah satu perusahaan yang memerlukannya karena pembangkit berbahan bakar minyak sawit pun sudah dibangun. Untuk membangun pabrik pengolahan relative mudah karena petani sudah memiliki kawasan dan korporasi tinggal mempraktekkannya,” kata Juaidi.

Untuk memberi wawasan dan ilmu praktis kepada peserta workshop, sejumlah pakar termasuk praktisi dihadirkan, diantaranya ahli pengolahan biodiesel, minyak merah, pembuat mesin pengolah high acid CPO skala UKM, eksportirhigh acid CPO, pembuatan briket karbon dari batok buah sawit, lilin aroma therapi, perwakilan dari Bank Sumsel-Babel Syariah, pengolahan biomasa pohon kelapa sawit, ahli manajemen pemasaran, serta ahli bidang pemberdayaan masyarakat.

Selain itu hadir pula Ahli Surfaktan Indonesia Prof Dr Ir Erliza Hambali MS dan perwakilan dari Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) Ir Widi Pancono,untuk berbagi ilmu kepada peserta.*)