PANGKALPINANG—Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli SP MP membuka Rapat Koordinasi Sekolah Lapang Penerapan Inovasi Teknologi (SL-PIT) Pertanian Selasa 18/05/2021) pagi. Kegiatan yang diikuti para pejabat terkait dan para penyuluh pertanian itu digelar di ruang rapat utama Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Kawasan Komplek Perkantoran dan Pemukiman Terpadu Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung – Jalan Pulau Pongok Kelurahan Air Itam Kecamatan Bukit Intan Kota Pangkalpinang.
Turut hadir mendampingi Juaidi, Kepala Bidang Penyuluhan Ir Kemas Arfani Rahman, Kepala UPTD Pengawas dan Sertifikasi Mutu Benih Dr Wahyudi Himawan SSi MT, Kepala UPTD Balai Proteksi Tanaman Suzana Kartikasari SP, Kepala UPTD Balai Benih Pertanian Drh Judnaidy, Kepala BPTP Kepulauan Bangka Belitung Dr Suharyanto SP MP, Kepala Seksi Kelembagaan dan Pengembangan SDM Fetty Nilwani SP, Kepala Seksi Pengembangan Teknologi dan Informasi Gunawan S Hartanto SP serta Kepala Seksi Tata dan Metode Penyuluhan Dewi Indah Cahyani SP MM, Sub Koordinator KSPP BPTP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Ahmadi MSc dan Sub Koordinator Program BPTP Provinsi Kepulauan Bangka BelitungDr Suyanto SPt MSi.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli SP MP berharap kegiatan SL-PIT Pertanian tersebut dapat membantu mendorong percepatan pelepasan padi lokal Kepulauan Bangka Belitung menjadi varietas unggul.
“Jadi aktifitasnya tidak sekedar penerapan teknologi inovasi pertanian untuk padi lokal akan tetapi juga kita dorong agar membantu atau pun mendukung proses kelengkapan syarat-syarat pelepasan varietas padi lokal (menjadi varietas unggul),” kata Juaidi.
Menurut Juaidi Kepulauan Bangka Belitung memiliki banyak padi unggul lokal yang tersebar di berbagai tempat. Saat ini ada sepuluh padi unggul lokal Kepulauan Bangka Belitung yang telah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian, yakni Balok, Mayang Pasir, Danel, Mayang Pandan, Pulut Merah, Raden, Sluman dan Utan Antu.
“Kita punya sepuluh padi unggul lokal yang sudah didaftarkan dan karena ada aktifitas yang serupa (SL-PIT-red) ya kita dorong ke situ (pelepasan varietas-red). Isitilah pribahasa sambil menyelam minum air. Karena untuk proses pelepasan varetas lokal, yang harus dipenuhi salah satunya uji multi lokasi. Jadi padi lokal itu harus ditanam dulu di beberapa lokasi dan kemudian juga harus dilakukan di dua musim tanam. Untuk input teknologi mulai dari pemupukan dan seterusnya kita minta BPTP Kepulauan Bangka Belitung membuat SOP dan benih yang dihasilkan nanti juga bisa disertifikasi karena padi lokal bisa disertifikasi untuk kebutuhan lokal dan untuk pengawalan hama penyakit kita minta UPTD Balai Proteksi,” ujar Juaidi seraya menambahkan persyaratan pelepasan padi unggul lokal menjadi varietas unggul juga harus melalui tahap pemurnian varietas.
“Pemurnian terhadap padi lokal yang ditanam sekaligus juga kita uji di beberapa tipologi lahan. Kerena yang dimaksud itu padi gogo maka tipologi lahan yang dimaksud itu kita buat dua. Satu di lahan kering dan satu lagi di lahan gora atau gogo rancah,” kata Juaidi.
Juaidi berharap pelaksanaan kegiatan SL-PIT dapat berjalan sukses dan memberikan manfaat untuk petani.
“Karena kita ingin melakukan SL-PIT ini secara terpadu maka kita rancang implementasinya dengan pendekatan semacam rancangan penelitian. Kemudian juga hasilnya nanti akan kita lokakarya-kan dan kita publikasikan untuk menjadi bahan karya ilmiah dan akan kita masukan ke jurnal ilmiah yang ada di lingkup pertanian,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Bidang Penyuluhan Ir Kemas Arfani Rahman mengatakan Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah dari 134 daerah di Indonesia yang ditunjuk Kementerian Pertanian untuk melaksanakan SL-PIT.
“Lokasinya di Desa Labu Air Pandan di bawah BPP Mendo Barat. Jadi se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini hanya satu. Ada sepuluh kelompok dan masing-masing kelompok nanti menyiapkan lahan seluas satu hektar yang juga nanti berfungsi sebagai labaoratorium lapangan dan ini sekaligus menjadi tempat pembelajaran petani,” kata Kemas.
Kemas berharap SL-PIT tersebut memiliki dampak positif terhadap aktifitas petani di tingkat lapang.
“Impact dari kegiatan ini bukan saja pengetahuan dan keterampilan petani saja tapi juga ada perubahan sikap pada petani dari yg tidak tahu menjadi tahu dan mereka akan menularkan pengetahuan tersebut kepada yang (petani) yang lain,” tandas Kemas.*)