ADA yang menarik ketika kita menjejakkan kaki di areal persawahan Desa Pergam. Tidak saja hamparan sawah yang luas terbentang sejauh mata memandang, namun ruas jalan yang membelah areal persawahan itu yang juga jadi pusat perhatian. Pasalnya jalan selebar tiga meter yang dilapisi tanah puruh tersebut ternyata merupakan batas areal persawahan yang dikelola petani dari dua desa yang berbeda. Petani Desa Pergam yang tergabung dalam Gapoktan Tanjung Timpek mengelola lahan sawah di sebelah kanan jalan sedangkan petani Desa Serdang yang bernaung dalam Gapoktan Serdang Bersatu mengelola areal sawah di sebelah kiri jalan. Kedua desa tersebut sama-sama berada dalam wilayah Kecamatan Air Gegas Kabupaten Bangka Selatan.

“Memang secara administratif jalan ini merupakan batas wilayah kedua desa,” kata Sekretaris Kecamatan Air Gegas Tanjaya kepada distan.babelprov.go.id, di sela-sela menghadiri kegiatan tanam perdana padi sawah di areal sawah Desa Pergam Bersama Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Dr H Erzaldi Rosman SE MM dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Juaidi Rusli SP MP, Selasa (15/06/2021) pagi.

Tanjaya menceritakan areal persawahan di wilayah tersebut telah ada sejak lama. Hanya saja hamparanya dulu sempit dan tidak seluas sekarang. Sebelumnya areal tersebut banyak ditumbuhi hutan lebat dengan berbagai kayu besar yang ada di dalamnya.

“Sejak sebelum merdeka sawah di sini sudah ada. Namun tidak luas seperti sekarang. Dulu cuma sedikit di sebelah dalam. Kemudian hamparan sawah yang sekarang ini dulunya masih berupa hutan dan banyak kayu-kayu besar,” ujar pria yang mengaku asli kelahiran Desa Pergam itu.

Menurut Tanjaya sumber air yang mengairi areal sawah di kedua desa tersebut berasal dari Sungai Tanjung Timpek yang terletak di Desa Pergam. Sumber air itulah yang selama ini digunakan secara bersama oleh petani kedua desa hingga sekarang.

“Jadi air yang mengalir ke sawah Desa Serdang itu berasal dari Desa Pergam dan kami menggunakan air tersebut bersama-sama. Alhamdulillah airnya cukup bahkan jika musim kemarau selama empat bulan pun airnya tidak kering,” tambah Tanjaya

Pernyataan Tanjaya dibenarkan Ketua Gapoktan Serdang Bersatu Desa Serdang Sudirno. Sudirno yang juga diundang dan hadir dalam kegiatan tanam perdana bersama Gubernur Kepulauan Bangka Belitung itu mengatakan meski berbeda desa namun petani sawah dari Desa Pergam dan Desa Serdang selalu kompak. Mereka sering melakukan diskusi terkait pengelolaan usaha tani padi sawah di tingkat lapang.

“Karena kita satu hamparan pasti kita sering diskusi. Kami selalu bersama-sama. Bahkan hasil panen kami pun tidak jauh berbeda. Jalan ini hanya pembatas saja tapi kesuburan tanahnya pasti sama,” kata Sudirno seraya menyebutkan rata-rata hasil panen yang diproduksi petani sawah kedua desa itu berkisar enam ton per hektar.  

Cetak sawah Tahun 2008

Diwawancara di tempat yang sama, Kepala Bidang Prasarana Sarana Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Asdianto SP MT mengatakan cetak sawah di areal tersebut dimulai pada tahun 2008. Areal sawah yang dicetak ketika itu seluas 200 hektar dan kini luasan sawah tersebut terus bertambah hingga menjadi ribuan hektar.

“Sekarang kalau yang di Pergam luas sawahnya 1.452 hektar dan yang di Serdang seluas 1.563 hektar,” kata Asdianto.

Menurut Asdianto lahan sawah yang dikelola dua gapoktan dari kedua desa tersebut memiliki beberapa dampak positif di tingkat lapang. Salah satu diantaranya adalah bisa berbagi air.

“Selain itu keseragaman tanam (tanam serentak-red). Tapi ada juga sisi negatif, misalnya ketika Desa Pergam kekurangan air maka tidak bisa dialiri ke Desa Serdang. Tapi itu semua bisa dikendalikan,” tandas sarjana pertanian jebolan Universitas Padjadjaran itu.*)