PANGKALPINANG – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Edi Romdhoni SP MM mengatakan ketahanan pangan keluarga menjadi penyangga utama ketahanan pangan nasional.

Karena itu pertanian keluarga sebagai sebagai bagian utama ketahanan pangan harus mendapat perhatian serius sebagai.

“Misalnya tentang cabai kalau tiap-tiap rumah tangga punya 10 atau 15 polibeg tanaman cabai mungkin urusan cabai sudah selesai. Kalau tiap-tiap rumah tangga memiliki katakanlah 5 hingga 10 ekor ayam maka urusan pangan hewani saya pikir sudah bisa diselesaikan,” kata Edi menjawab pertanyaan RRI Sungailiat terkait persoalan ketahanan pangan di Babel, Senin (14/11/2022). 

Ia menerangkan ketahanan pangan keluarga merupakan lapisan terendah dalam sistem ketahanan pangan. Namun posisinya menjadi vital terutama ketika pangan nasional mengalami masalah.

“Babel daerah kepulauan, 70 persen pangan kita masih menggantungkan dari luar, baik yang bersumber dari nabati maupun hewani. Contohnya kebutuhan daging, itu satu bulan bisa 1000 ekor lebih (yang dipotong). Itu semuanya dari luar (pulau),” terangnya.

Karena itu Edi mendorong stakeholders terkait untuk mendukung kegiatan pertanian keluarga. Apalagi menurutnya jumlah petani yang ada saat ini sangat sedikit dan tidak sebanding dengan jumlah penduduk.  

“Jumlah petani kita kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk sangat tidak seimbang. Menghidupi (penduduk Indonesia) 276 juta, (tapi) yang bergerak di bidang pertanian (hanya) 33 juta orang. Kemudian 33 juta itu pun yang usianya di bawah 40 tahun hanya 19 persen atau 20 persen,” jelasnya seraya menambahkan negeri ini akan mengalami kekurangan petani jika tidak diantisipasi dari sekarang.

“Artinya kalau tidak kita siapkan generasi muda estafetnya, ini lama-lama kita bisa krisis tenaga kerja di bidang pertanian,” tandas Edi.*)