PAGI belum terang benar. Gelap malam masih didekap pekat di ufuk timur. Begitu juga dingin embun masih rapat membungkus alam. Sebagian besar warga pun masih terlelap, menanti fajar iduladha menyingsing, Rabu (27/5/2026).
Sementara petugas pengawas pemotongan hewan kurban yang diterjunkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah bersiap menembus gelap. Di saat orang lain masih memeluk mimpi, mereka sudah rapi dengan rompi dan berbagai perlengkapan kerja, demi memastikan daging kurban yang dikonsumsi masyarakat aman dan sehat. Mereka rela menepis kantuk dan menerobos sunyinya fajar untuk mulai bergerilya dari satu sapi ke sapi lainnya. Bagi petugas, fajar iduladha bukan sekadar waktu untuk bergembira di hari raya, melainkan panggilan tugas menjaga kesehatan sesama.
“Setiap tahun memang begini tugas kami mengawasi pemotongan hewan kurban. Jadi ini memang tugas rutin setiap Hari Raya Iduladha,” kata Haswita Fitri Amalia.
Haswita merupakan satu dari beberapa tim medik yang ditugaskan untuk mengawal hewan kurban. Tahun ini fokus pengawasannya berlokasi di Masjid Al Falah Lingkungan Nelayan 2 Kelurahan Sungailiat Kabupaten Bangka. Salah satu hewan kurban yang diawasi adalah simental, sapi kurban bantuan Presiden Prabowo Subianto yang disalurkan untuk masyarakat yang bermukim di lingkungan setempat. Ia tak sendiri. Dokter hewan lulusan UGM itu ditemani petugas lain Dino Sebrino. Tugas keduanya adalah memastikan kesehatan dan kelayakan hewan baik sebelum (antemortem) maupun setelah penyembelihan (postmortem).
“Kalau antemortem sudah selesai kami periksa, setelah disembelih nanti pemeriksaan postmortem,” ujarnya.
Pengorbanan di hari raya ternyata bukan cuma soal hewan kurban. Kisah para petugas pengawas ini menjadi pengingat sunyi, bahwa di balik keriuhan perayaan, ada sosok-sosok tangguh yang rela menunda waktu berhari raya bersama keluarga demi memastikan kurban yang sampai di piring masyarakat adalah daging kurban yang terbaik. Bahkan salat iduladha pun tidak dilakukan bersama orang-orang tercinta tetapi ditunaikan di masjid mana yang mereka singgahi.
“Kami salat iduladha di Masjid Nurul Ihsan Simpang Tempilang. Jam 6.50 kami sudah sampai di Simpang Tempilang,” kata petugas pengawas yang lain Fikri Amanda Rasyid.
Fikri yang ditugaskan ke Wilayah Kabupaten Bangka Barat bersama Edo Duanda Putra, Ayu dan Nurfitriana tersebut mengaku telah menyiapkan diri sebelum subuh. Mereka meninggalkan rumah di saat kumandang takbir mulai memecah hening, bersahut-sahutan dari pengeras suara masjid terdekat.
“Kemudian jam 6 kami meluncur dari Pangkalpinang menuju Kecamatan Kelapa,” ujarnya.
Tugas mengawal kesehatan hewan kurban bukan sekadar pekerjaan rutin, melainkan sebuah pengabdian yang penuh keikhlasan.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Enda Sukaisih, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para petugas medik yang rela melewatkan momen berkumpul bersama keluarga demi menjaga kualitas hewan kurban.
"Semoga ini menjadi amal dan Allah SWT memberikan berkah," ungkapnya.
Sembari menyelipkan doa agar kerja keras penuh keikhlasan ini bernilai amal dan menjadi ibadah, Enda menyemangati timnya untuk terus memberikan performa terbaik. Baginya, senyum masyarakat saat menerima daging kurban yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal) adalah muara dari perjuangan total para petugas pengawas di lapangan.*)