PANGKALPINANG – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan, akan melaksanakan penelitian mengenai integrasi pertanian cerdas iklim di lahan pasca pertambangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Riset ini difokuskan pada perumusan model integrasi pertanian dan strategi adaptasi penghidupan (livelihood) masyarakat yang dinilai efektif dalam memperkuat ketahanan pangan komunitas setempat.
Menurut Ketua Tim Peneliti, I Gusti Putu Ayu Mahendri, Provinsi Babel dipilih sebagai lokus penelitian karena wilayah ini memiliki karakteristik lahan, skala komunitas, tingkat kerentanan, dan potensi CSA (Climate-Smart Agriculture) yang berbeda.
“Studi dilakukan di dua wilayah yang memiliki lahan pascatambang yaitu Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” kata Gusti Putu Ayu saat bertemu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Babel Kurniawan, Rabu (10/6/2026).
Turut mendampingi Kurniawan sejumlah pejabat terkait, termasuk para pejabat fungsional.
Dikutip dari abstrak penelitian, bahwa riset ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan pengumpulan data melalui survei rumah tangga, wawancara mendalam, focus group discussion, dan observasi lapangan.
Hasil penelitian ini diharapkan menghasilkan model integrasi CSA-livelihood adaptation yang kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan, serta menjadi dasar perumusan kebijakan dan strategi pengelolaan lahan pasca pertambangan untuk memperkuat ketahanan pangan dan ketahanan sosial-ekonomi komunitas terdampak perubahan iklim.
Kepala DPKP Provinsi Babel, Kurniawan, menyambut baik riset perumusan model integrasi pertanian di lahan pasca-pertambangan demi mendongkrak ketahanan pangan masyarakat.
Sementara itu Pejabat Fungsional Mutu Pakan Ahli Madya, Gusva Yetti, mengungkapkan bahwa pemanfaatan lahan eks-tambang untuk penguatan ekonomi sejatinya telah berjalan, salah satunya dialokasikan sebagai padang penggembalaan ternak.
"Pada tahun 2018, kita mendapat dana dari APBN untuk reklamasi lahan eks-tambang sebanyak 20 hektar di Belitung Timur (Beltim). Kemudian, ada tambahan 5 hektar lagi untuk perbaikan berikutnya lewat dana APBN di wilayah yang sama," ujar Gusva.
Di luar program pemerintah, lanjut Gusva Yetti, peternak juga kerap memanfaatkan lahan eks-tambang timah untuk padang pengembalaan baik secara mandiri maupun lewat kerja sama dengan PT Timah Tbk.*)