PANGKALPINANG – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus berupaya mengembangkan berbagai komoditas perkebunan untuk mendukung pembangunan sektor pertanian ke depan.
Selain komoditi yang sudah ada seperti lada, karet dan kelapa sawit, berbagai komoditi lain akan pula dikembangkan dalam rangka membantu meningkatkan pendapatan petani di daerah ini. Salah satu diantaranya tanaman jambu mete yang dikembangkan tahun 2021 lalu.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Yanuar SH MH mengatakan jambu mete tersebut telah ditanam di dua kabupaten dengan luas 100 hektar.
“Di Bangka Tengah 40 hektar dan Bangka Selatan 60 hektar,” kata Yanuar ketika memberikan sambutan pada pembukaan Rapat Koordinasi Pembangunan Perkebunan Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2022 di Hotel Santika Pangkalpinang, Kamis (04/08/2022).
Yanuar menuturkan sejak dulu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki komoditi unggulan perkebunan. Selain lada dan karet yang memang telah lama diusahakan juga ada kelapa sawit yang sekarang menjadi komoditi yang banyak ditanam petani.
“Namun masih terdapat beberapa komoditas perkebunan yang potensi untuk dapat dikembangkan seperti kopi, jambu mete, serai wangi dan sagu,” tuturnya.
Diterangkan Yanuar pembangunan pertanian ke depan mesti berbasis kawasan. Selain itu setiap komoditi yang dikembangkan juga harus memenuhi skala ekonomis.
“Dan setiap komoditi yang dikembangkan dipastikan juga terkoneksi dengan offtaker atau pembeli,” terang Yanuar seraya menambahkan Rakor Pembangunan Perkebunan digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut merupakan wahana penting untuk mensinergikan gerak langkah pembangunan pertanian ke depan.
“Pada kesempatan ini kami masih sangat mengharapkan masukan dan saran untuk penyempurnaan perencanaan kebijakan program dan kegiatan pada masa yang akan datang,” tambahnya.
Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Edi Romdhoni SP MM. Ia mengatakan Rakor Pembangunan Perkebunan tersebut digelar untuk menyelaraskan program provinsi dan daerah agar tidak tumpang tindih.
“Untuk itu melalui forum inilah kita perlu mendapatkan masukan dari kawan-kawan kabupaten dan kota,” pungkasnya.*)